Hari ini aku terbangun dari tidur dengan perasaan cemas dan khawatir. Beberapa menit setelah terjaga, aku baru menyadari kedua pipiku basah serta degub jantung yang masih tak beraturan. Aku mencoba mengingat kembali hal apa yang telah aku lalui sampai mengalami mimpi yang terasa begitu nyata hingga tangisanku masih menyesaki dada ketika aku terjaga.

Berkali-kali aku mencoba memahami, berusaha mengingat kembali detil mimpi yang baru saja aku alami, namun satu-satunya yang muncul dipikiranku adalah draft cerpen yang aku tulis untuk 30 Hari Menulis Cerita. Cerpen yang aku sadur dari kisah nyata itu memang belum rampung aku tulis, aku belum menemukan ending yang pas untuk menutup cerita tersebut, namun apa yang aku lihat dalam mimpiku membuat aku berpikir lagi apakah harus merampungkannya, atau membiarkan hanya sebatas draft saja tanpa ending dan tanpa judul.

Aku beranjak dari tempat tidur, membuka tirai jendela dan menemukan matahari yang sudah beranjak naik. Lalu membalikkan badan, melangkah pelan menuju tembok ruangan berukuran 5×4 meter persegi itu, di mana aku memajang semua jadwal harian serta list pekerjaan yang akan aku lakukan setiap hari. Aku menghembuskan nafas panjang seraya mataku fokus pada satu coretan kertas yang aku tulis sebagai pengingat untuk jadwal interview ku hari ini.  Satu sisi timbul rasa malas menghadiri jadwal interview karena ini bukan yang pertama, tapi interview yang ke sekian kalinya aku datangi dalam satu bulan ini.

“Aku belum beruntung. Tidak boleh menyerah. Coba lagi. Harus bersungguh-sungguh.”

Aku selalu mengunakan kalimat itu untuk menenangkan diriku sendiri. Meski tidak begitu berefek, namun cukup berpengaruh untuk aku mencoba lagi.

Tepat jam dua belas siang, aku berangkat meninggalkan kosan dengan harapan interview kali ini aku bisa diterima bekerja. Setidaknya dengan memiliki pekerjaan tetap, aku tidak akan dipusingkan lagi dengan biaya bulanan sambil aku meneruskan pekerjaan sampingan sebagai penulis freelance.

Sebelum meninggalkan kosan, aku memastikan memberi makan kucingku. Kemudian aku bergegas naik KRL, salah satu transportasi umum yang sangat bersahabat dan cukup ramah terhadap dompet perantau sepertiku.

Aku kembali menghembuskan nafas panjang dan berat setelah keluar dari ruangan interview. Dari kata-kata kiasan yang berusaha disampaikan HRD sehalus mungkin kepadaku, aku tahu bahwa aku tidak diterima. Aku sudah terlalu hapal dengan kata-kata kiasan serta mimik wajah HRD ketika mengekspresikan penolakan. Meski kecewa, tapi ya aku harus tetap berusaha dan mencoba lagi, karena jika aku menyerah, maka tamatlah semuanya.

Aku kembali ke kosan dengan raut kusut. Bukan hanya wajahku, pikiranku pun mungkin lebih kusut. Sampai di kosan aku baru teringat bahwa seharian belum ada satu butir nasi pun yang melewati kerongkonganku. Bukan hanya kali ini aku mendzalimi lambungku, tapi akhir-akhir ini aku sudah berlaku tidak adil kepada seluruh anggota tubuhku. Mata yang enggan terlelap. Kepala yang selalu aku paksakan menutupi rasa sakit. Lambung yang acap kali menjadi korban ketidakadilan. Pikiran yang selalu berusaha menyembunyikan kata melelahkan. Hati yang telah begitu sabar menahan kesakitan.

Kembali air mataku mengalir seraya tangan kananku mengaduk nasi dalam piring yang dipenuhi indomie. Teringat nasihat orangtua yang dulu aku abaikan saat aku bersikeras datang untuk mengadu nasib di Jakarta. Berbekal tekad kuat, impian serta harapan akan menemui jalan kesuksesan, namun hingga saat ini, setelah 3 bulan aku tinggal di Kota Metropolitan, belum ada satupun pekerjaan tetap yang bisa aku andalkan.

Dulu, bukan hanya Jakarta yang aku janjikan kepada orangtua, namun nun jauh disana, Menara Eiffel berdiri tegak yang dengan sesumbarnya aku janjikan untuk suatu saat akan aku kunjungi bersama orangtua. Namun semua itu seolah hanya menjadi harapan dalam angan-angan saja, karena aku pergi ke Jakarta tanpa mengantongi ridho orangtua. Ingin pulang, tapi sungguh malu rasanya mengakui kesalahan.

Siang kembali berganti malam. Pikiranku semakin kacau teringat dua hari lagi adalah tenggat waktu untukku membayar sewa kosan.

Setelah menghabiskan sepiring nasi dan indomie aku kembali membuka laptop. Meski masih dihantui oleh mimpi buruk semalam, aku tetap berusaha menyelesaikan tulisan yang aku yakini bisa menang di tantangan 30 Hari Menulis Cerita. Namun baru saja aku akan memulai menuliskan ending dari cerita tersebut, tiba-tiba lampu kamarku seketika mati hingga membuatku semakin takut karena apa yang aku lihat dalam mimpiku sangat nyata terjadi. Dengan nafas terengah menahan rasa takut, pelan aku berdiri menyibak tirai jendela, mengintip jalanan setapak yang begitu terang benderang dan barulah aku menyadari bahwa token listrik sudah habis. 

Written by

Yulia Gumay

Assalamu'alaikum ...

Halo, Saya Yulia.
Mba-mba kantoran yang cinta Traveling. Suka masak, tapi ngga suka makan.

Apa yang saya posting di blog ini merupakan tulisan pribadi saya kecuali jika saya menyebutkan sumber lainnya. Di sini Anda akan menemukan sesuatu yang mungkin penting dan tidak penting. Tapi saya tetap berharap ada manfaat yang Anda dapat meski mungkin keberadaan Anda di sini karena tersesat.

Terima kasih banyak sudah berkunjung. Lain waktu datang lagi yaaa!!! :D