Dua puluh menit baru saja berlalu. Aku dan laki-laki yang sejak tadi menyejajarkan langkahnya denganku hanya saling membisu. Tak ada suara dan gerak yang begitu berarti. Kami hanya berjalan dengan langkah pelan di sepanjang bibir pantai seraya memandang lurus ke depan. Ombak-ombak kecil saling berkejaran, berlomba tanpa jeda demi sang pantai yang selalu merindunya.

Kebisuan kami menambah kesunyian pantai Air Uba ini. Pantai unik dengan air berwarna coklat, hanya dimanfaatkan sebagai tempat nelayan menjemur hasil tangkapan mereka. Tapi di senja ini, nelayan pun belum tampak menepi. Hanya terlihat beberapa perahu tua dan kusam yang telah ditinggal si empunya.

“Duduk di sana, yuk!”

Hening itupun pulih. Aku mengikuti arah telunjuk laki-laki berbadan tegap dengan potongan rambut acak-acakan itu. Ketika para pria sudah beralih pada model klimis ala pomade, laki-laki ini masih setia dengan style the shag yang pernah menjadi trend satu dekade silam. Aku tidak pernah bertanya apalagi memberi saran soal penampilan fisiknya, hanya saja aku selalu menyayangkan kenapa dia harus tampil asal-asalan sementara menurut pengamatanku, postur tubuh dan wajahnya sangat berpotensi melemahkan iman para wanita jika saja ia mau sedikit merubah style-nya.

Kutempelkan pantat pada sebatang pohon kelapa yang telah tumbang. Laki-laki itu mengikuti. Kebisuan kembali melanda kami berdua. Hal ini tentu saja membuat pikiranku terusik oleh sikapnya yang tiba-tiba saja irit bicara. Padahal laki-laki yang baru kukenal dua minggu belakangan ini adalah sosok yang senang berbagi cerita dengan candaannya yang selalu menggelitik tawa. Terlebih lagi soal penggunaan Bahasa Indonesia baku yang masih kental dalam setiap percakapannya.

Dari ekor mataku, kulihat ia tengah asyik memainkan butiran pasir di genggaman tangan kanannya. Aku menghela nafas panjang dan berat, berharap ia melirikku lalu berinisiatif memulai percakapan, namun hingga beberapa menit kemudian harapanku masih sia-sia karena ia seolah tidak menyadari keberadaanku di sampingnya. Aku hanya bisa pasrah membiarkan ia mengembara di alam pikirannya, sementara pikiranku pun sibuk menerka-nerka.

Hubungan kami masih sebatas pertemanan. Rasanya juga tidak mungkin cinta bisa tumbuh secepat itu. Apalagi aku bukanlah wanita penganut cinta pada pandangan pertama atau mungkin lebih jelasnya lagi dia tidak termasuk dalam kriteria laki-laki yang kuharapkan menjadi suami. Jujur, aku hanya menyukai keluguannya. Gaya bicara sederhana tanpa berniat merayu atau bahkan menggodaku.

Kadang aku pernah berpikir tentang penampilan laki-laki berjenggot tipis ini. Jika dia mau di make over mungkin dia bisa masuk dalam list catatanku sebagai calon imam. Namun seketika khayalan itu harus sirna karena orangtua yang terlalu tinggi mematok kriteria.

Keberadaanku di sini hanyalah untuk menghabiskan sisa liburan semester terakhir menjelang wisuda Sarjana. Ini juga kali pertama aku diizinkan berkunjung setelah lima tahun orangtuaku tinggal di daerah ini. Awalnya aku tidak mengerti kenapa mereka selalu menolak setiap kali aku ingin menghabiskan liburan semesterku bersama mereka, karena selama ini kami hanya bertemu pada hari raya idul fitri saja. Namun setelah tiga tahun barulah mereka bercerita bahwa area perkebunan sawit yang luasnya ratusan ribu hektar itu dulunya adalah persembunyian para kriminal pengedar narkoba yang menjadi buronan aparat negara. Baru dua tahun terakhir daerah ini tidak lagi terdengar letusan senjata api.

Satu minggu pertama berada di sini aku sempat dihinggapi rasa jenuh. Mulai dari cuaca yang sangat panas dan sukses mengubah warna kulitku menjadi eksotis, juga karena setiap hari aku tinggal di rumah sendirian karena orangtuaku harus pergi bekerja. Kedatanganku ke sini bertepatan dengan musim panen sehingga sulit untuk mereka meninggalkan pekerjaan karena jika sawit telat dipanen maka keesokan hari buahnya akan terlepas dari tangkai.

Meski ada rasa bosan, namun melihat perjuangan kedua orangtuaku yang harus pergi bekerja setelah subuh lalu pulang menjelang maghrib, rasanya sungguh durhaka jika aku memilih meninggalkan mereka hanya karena alasan jenuh. Mereka sudah bekerja sangat keras demi membiayai pendidikanku, setidaknya kehadiranku di sini, bisa sedikit mengurangi beban ibu, sehingga dia hanya cukup membantu ayah di kebun tanpa perlu lagi memasak, mencuci dan membersihkan rumah.

Minggu kedua barulah aku berkenalan dengan lelaki sipit berhidung mancung yang aku tahu bernama Rama. Jika saja warna kulitnya sedikit lebih terang, mungkin ia tidak akan kalah tampan dengan bintang K-Pop yang digandrungi banyak remaja sekarang. Namun sayang, Rama tidak begitu memanfaatkan penampilannya hingga aku seringkali mengatainya, “ganteng-ganteng mubazir.” Tapi tentu saja itu hanya berani aku teriakkan dalam hatiku saja.

Rama tidak banyak bicara. Itu yang aku dengar dari orang-orang di sini tentang dirinya. Tapi setelah mengenalnya, aku tidak setuju dengan kesimpulan itu, karena Rama begitu ramah dan senang bercerita. Aku berpendapat bahwa selama ini Rama menjadi pendiam hanya karena memang tidak ada pemuda seumurannya yang bisa ia ajak berbicara.

Semenjak berteman dengan Rama, aku mulai agak betah tinggal di tempat ini. Jika sedang tidak bekerja, Rama selalu menyempatkan diri mengunjungi rumahku yang hanya terpisah beberapa rumah dari kediamannya. Meski hanya sebatas teman, namun Rama tidak sungkan menunjukkan perhatiannya kepadaku. Ia juga tidak malu menceritakan tentang dirinya, pekerjaannya, keluarganya juga tentang hidupnya ke depan.

Meski Rama sangat terbuka, namun aku tidak pernah berani bertanya tentang kehidupan pribadinya, misalnya soal pendidikan atau pekerjaan yang layak. Aku selalu merasa tidak pantas mengajukan pertanyaan demikian kepada orang yang baru kukenal, walau itu mengusik pikiranku. Aku melihat jelas ada potensi dalam diri Rama. Dari cara ia berbicara dan memilih kalimat, aku tahu Rama adalah laki-laki yang cerdas. Tapi aku tidak mengerti kenapa ia memilih bekerja menggunakan otot dari pada otak. Satu hal lagi tentang Rama yang tidak aku paham, ia terkesan menghindar jika pembicaraan kami mulai mengarah kepada cerita soal sarang pengedar narkoba.

 

Kembali kulirik Rama yang masih betah dalam kebisuannya.

“Enak ya, jadi pantai,” kataku sambil tetap fokus memandang lurus ke depan.

Dari sudut mataku, kulihat Rama menoleh dengan raut bingung.

“Enak apanya?” tanya Rama.

Aku kembali menghela nafas pelan karena berhasil memulihkan kebisuan Rama. Aku menoleh ke arahnya seraya memamerkan senyum termanisku. Kemudian kembali melepas pandanganku ke tengah-tengah laut.

“Karna sejauh apapun ombak pergi meninggalkannya, suatu saat ombak itu pasti akan kembali lagi ke sisinya,” ujarku sok puitis.

“Kamu mau jadi pantai?” tanya Rama seraya tersenyum.

“Aku?”

“Ya, kamu. Tadi kan kamu bilang jadi pantai itu enak, berarti kamu mau  seperti pantai?” tegas Rama seraya matanya memandang lekat ke arahku.

“Aku mau jadi pantai, asalkan kamu yang jadi ombaknya,” ujarku mencoba mencandai Rama seraya tersenyum menggodanya.

Seketika Rama terdiam. Senyumnya pun ikut memudar. Rama mengalihkan pandangannya ke depan dengan gurat wajah menyiratkan kebimbangan. Buru-buru aku menata hati yang entah kenapa seketika menjadi berantakan setelah melihat Rama terdiam.

“Ayra …”

Tiba-tiba saja Rama menggenggam tanganku erat. Aku terkejut dengan raut penuh tanda tanya. Kurasakan telapak tanganku seolah membeku seketika. Ada keringat dingin mengalir, entah itu dari tanganku atau tangan Rama. Aku tidak sempat memeriksa karena genggaman tangan Rama tidak memberi celah untuk aku melepaskannya.

“Tidak bisakah kamu tinggal lebih lama lagi di sini?”

Kualihkan pandangan ke tengah-tengah lautan demi menghindari sorot mata Rama yang begitu tajam menatapku.

Sekarang aku mengerti kenapa Rama mendiamkan aku beberapa menit yang lalu. Mungkin itu juga alasannya mengajakku ke tempat ini, karena tiga hari yang lalu Rama pernah menanyakan tanggal kepulanganku. Tapi aku sungguh tidak mengerti kenapa sikap Rama tiba-tiba begitu agresif, padahal sebelumnya dia tidak pernah seperti ini.

“Mungkin aku terlalu naif mengatakan ini, tapi aku jatuh cinta sama kamu.”

Aku tidak tahu apakah harus tersenyum atau menangis. Satu sisi hatiku senang mendengar pernyataan yang tanpa basa-basi itu. Tapi di sisi lain tentu saja aku sangat paham bahwa ini akan menjadi semakin tidak mungkin untuk kami bersama melanjutkan kisah yang bahkan belum bermula. Rama hanya tamatan SMA dan aku akan melanjutkan pendidikan Pascasarjana. Kutahu cinta memang tidak pernah peduli apapun perbedaannya tapi ini jelas saja tidak mungkin, karena orangtuaku sangat peduli.

Aku tahu betul kenapa mereka mau bekerja keras tanpa mengenal lelah demi menyekolahkan aku ke jenjang tertinggi. Mereka tidak ingin anak satu-satunya juga bernasib sama dengan mereka. Mereka ingin melihat aku sukses. Dan tentunya mereka ingin aku bersuamikan laki-laki yang setidaknya strata pendidikannya sama denganku.

Sekali lagi aku menghindar dari tatapan Rama. Melihat kejujurannya membuat aku tidak tega jika harus mematahkan harapannya. Tanpa berpikir panjang lagi, aku membalas genggaman tangan Rama yang semula hanya kubiarkan saja. Belum sepatah katapun terucap dari bibirku, namun Rama langsung seolah sudah mengambil kesimpulan dari senyum dan balasan genggaman tanganku.

Rama tersenyum lalu merangkul bahuku. Kusandarkan kepalaku di bahunya. Kami terbuai pikiran masing-masing sambil menatap jauh ke tengah lautan. Rama mungkin sedang berbunga-bunga, namun aku kembali harus menghela nafas panjang dan berat demi menyelamatkan perasaan Rama untuk sementara.

***

Hari ini cinta memaksaku menyambut air mata karena akan hadirnya perpisahan. Rama masih belum mau melepas genggaman tangannya seolah dia benar-benar tidak rela membiarkan aku meninggalkannya. Aku tidak tahu kapan aku mulai menangis, bahkan aku sendiri tidak tahu kenapa harus menangis.

“Kamu tidak boleh nangis,” kata Rama, seraya jari-jarinya menghapus sisa-sisa air mata yang jatuh di kedua pipiku. “Bukannya kamu yang bilang, kita pasti bertemu lagi,” lanjutnya meyakinkanku.

Aku berusaha tersenyum.

“Aku akan selalu setia pada cintamu, berjanjilah bahwa kamu juga akan setia pada cintaku,” pinta Rama.

Ada detik kosong sebelum akhirnya dengan berat hati aku menganggukkan kepala. “Ya, aku berjanji, aku akan tetap setia pada cintamu,” ucapku terbata. Janji setia yang aku sendiri tidak yakin akan menepatinya.

“Kamu pernah bilang, bahwa kamu mau jadi pantai asalkan aku yang jadi ombaknya. Sekarang aku pun rela jadi karang asalkan kamu yang jadi gelombangnya. Dengan begitu kita akan selalu bersama.”

Aku tersenyum tipis.

“Pergilah! Aku akan menantimu di sini,” lanjutnya seraya melepas genggaman tangannya.

Aku masih berdiri mematung di depan Rama. Pikiranku telah jauh mengembara dengan rasa bersalah yang semakin menggunung. Betapa jahatnya aku meski tidak pernah berniat namun aku telah mempermainkan kepolosan Rama. Ketulusan binar mata  yang menyimpan sejuta harap agar aku kembali lagi ke tempat ini, namun saat kulanjutkan langkah, semuanya pun terpisah.

Berbekal nomor handphone yang aku berikan kepada Rama, awalnya ia begitu rajin menghubungiku. Meski kadang aku tidak segera membalas, bahkan sangat jarang menjawab panggilan telponnya, namun dengan alasan sibuk mengurus keberangkatanku ke Jakarta, Rama selalu bisa menerima alasan-alasan itu tanpa pernah satu kali pun mengeluh atau bahkan marah saat aku terkesan mengabaikannya. Perhatiannya tetap sama bahkan sepertinya ia tidak pernah jenuh menghubungiku walau hanya sekedar mengucapkan, “selamat pagi, selamat malam”.

Tapi sekarang, setelah dua bulan semenjak aku meninggalkan Pesisir Selatan, semua itu tiada lagi, Rama seakan lenyap ditelan waktu. Keberadaannya pun aku tidak tahu. Apakah ada senyum lain yang telah mengusik hatinya? Senyuman yang mungkin telah melunturkan janji setianya? Apakah Rama sudah mengingkari semua ucapannya? Apakah secepat itu Rama melupakanku? Atau mungkin Rama sudah menyadari bahwa selama ini aku membohonginya? Semua pertanyaan-pertanyaan itu tidak pernah terjawab, karena Rama tidak pernah lagi menghubungiku.

Setelah satu tahun melanjutkan S2 di Jakarta, barulah aku ketahui ternyata menghilangnya Rama bukan karena ia mengingkari janjinya. Bukan pula karena ada senyum lain yang mencuri perhatiannya, tapi karena orangtuaku yang meminta untuk Rama berhenti menghubungiku. Mereka bahkan bercerita soal masa lalu Rama yang pernah ikut bergaul dengan para pengedar dan pemakai narkoba yang dulu tinggal di sana. Meski demikian aku tidak menganggap Rama buruk, karena orangtuaku juga tidak pernah mengatakan bahwa dia terlibat dalam kasus tersebut.

Aku berusaha menghubungi Rama, setidaknya aku harus berani meminta maaf atas sikap pecundang yang selama ini membuat aku selalu dihantui rasa bersalah. Namun Rama tidak pernah bisa dihubungi. Terakhir yang aku tahu bahwa Rama dan Papanya sudah tidak lagi tinggal di daerah Pesisir Selatan itu.

Hingga menyandang gelar S2, aku tetap belum bisa mengutarakan permohonan maaf kepada Rama. Tidak ada jejak yang ia tinggalkan untuk aku bisa menghubunginya. Rasa bersalah kerap menghantuiku hingga aku memilih menyibukkan diri mencoba memulai berbisnis dan membangun usaha sendiri. Tanpa pernah terbayangkan olehku bahwa takdir inilah yang membawaku kembali bertemu dengan Rama, lewat sebuah iklan lowongan kerja yang aku buka.

 

SURAT LAMARAN

Kepada Yang Tercinta
CEO Random Gallery
Di hatiku

Aku terbelalak.  Lalu senyum-senyum sendiri seraya dalam hati bertanya-tanya, siapakah gerangan yang mengirimkan Surat Lamaran seperti ini.

Meski jarak yang jauh dan rentang waktu tidak mampu menyatukan kita, namun sedikitpun aku tidak pernah menyesali telah setia pada cintamu. Karena aku tahu aku mampu melakukannya. Karena aku tahu ini adalah yang terbaik buatku juga buatmu dan karena aku tahu aku setia bukan karena janji, tapi karena Cinta.

Di mana pun kamu sekarang, aku cuma ingin kamu tahu bahwa sampai saat ini aku masih tetap setia pada cintamu. Aku tidak pernah berhenti merindui kamu, seperti gelombang yang selalu rindu karang. Seperti ombak yang selalu ingin kembali ke pantai. Aku tidak memintamu untuk mengingat janji setia yang kamu ucapkan dulu kepadaku. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku pernah berharap cinta ini tidak hanya akan bersemi saja, tapi juga untuk abadi selamanya.

“Rama,” gumamku.

Aku tidak menyangka selera humornya sampai sejauh ini. Terlebih tulisan tangan yang mungkin sewaan karena begitu rapi dan teratur, Rama sukses membuat aku tersenyum bahkan tertawa sendiri. Meski tidak habis pikir, tapi aku senang Rama menyapaku lagi.

Aku dengar kamu sudah menyelesaikan S2. Aku turut bangga dan berbahagia. Aku juga ingin meminta maaf karena baru sekarang bisa menghubungi kamu. Melalui tulisan ini aku ingin menyampaikan beberapa hal yang mungkin setelahnya akan mengubah penilaianmu terhadapku atau bisa jadi membuat kamu membenciku. Ini tentang fakta yang selama ini aku sembunyikan darimu.

Aku mengernyitkan dahi.

Aku tidak bermaksud membohongi kamu, namun keadaan yang tidak memungkinkan untukku jujur saat itu, karena sebenarnya segala hal yang kamu ketahui tentang aku adalah kebohongan belaka.

Mataku kembali terbelalak. Kali ini lebih lebar dari pada di awal membaca isi surat tersebut.

Entah itu nama, usia, keluarga, pekerjaan, penampilan bahkan obrolan sepanjang percakapan kita dulu, semua itu hanya cerita bohong. Namaku bukan Rama. Laki-laki yang kamu kira sebagai Papaku juga bukan orangtuaku. Bukan hanya kamu saja yang tertipu, tapi semua orang yang mengenalku di sana juga tidak pernah tahu tentang kebohongan ini. Seingatku hanya ada lima kata yang paling jujur pernah aku ungkapkan kepadamu, “aku jatuh cinta sama kamu.”

“Dasar gombal,” rutukku dalam hati.

Bahkan soal gelombang dan karang. Ombak dan pantai, itupun sepertinya hanya ada di dongeng-dongeng putri dan pangerannya.

Ayra, aku ingin memulai lembaran yang baru denganmu. Dengan kejujuran tanpa pernah ada lagi yang harus aku tutupi.

Aku mencibir. Ada amarah yang hampir memuncak karena kejujuran Rama jelas saja melukaiku. Namun meski demikian, aku tetap penasaran melanjutkan isi Surat Lamaran itu.

Aku yakin kamu masih ingat akhir-akhir ini aku sering menghantui kamu dengan sosok yang mungkin menurutmu hanya orang yang berwajah mirip denganku.

Aku terkejut. Mulutku reflek menganga seraya otakku bekerja memunculkan ingatan tentang kejadian demi kejadian yang belakangan ini membuat aku serasa berhalusinasi.

Itu bukan orang lain, bukan juga makhluk gaib, tapi itu adalah aku.

Aku kembali mencibir. Beranggapan Rama sedang mengarang cerita halu, karena yang beberapa kali aku lihat sama sekali tidak menyisakan penampilan Rama yang aku kenal.

Soal pendidikanku yang menjadi alasan kedua orangtuamu memintaku berhenti menghubungi kamu, bahwa sebenarnya aku sudah meraih gelar Magister tiga tahun sebelum bertemu kamu. Soal penampilanku yang mungkin menurutmu tidak masuk kriteria sama sekali, sehingga kamu harus membohongi aku tentang perasaanmu karena tidak tega menolakku, itu karena tuntutan pekerjaanku sebagai Tim Inteligen Badan Narkotika Nasional. Soal laki-laki yang menjadi Papaku, beliau satu-satunya yang mengetahui penyamaranku karena beliau adalah seniorku yang juga sedang menjalankan misi yang sama denganku.

Aku dibuat semakin bingung dengan alur cerita yang dituturkan Rama.

Jika menurut orangtuamu strata pendidikan dan pekerjaan adalah syarat penting untuk bisa menjadi suamimu, apakah sekarang aku sudah layak berada dalam daftar kandidat tersebut?

Aku tersenyum. Meski masih menyimpan kesal dan sesal, jika memang benar, kenapa dia tidak jujur dari dulu.

Ini adalah Surat Lamaranku. Aku tahu tidak mudah untuk kamu langsung mempercayai ocehan panjang lebar ini, sebab itulah aku melampirkan semua berkas identitas yang rasanya perlu untuk meyakinkan kamu.

Aku tidak henti tertawa setelah memeriksa semua berkas identitas yang ia kirimkan. Mulai dari akte kelahiran hingga slip gaji. Bahkan beberapa sertifikat tanah dan rumah milik orangtuanya juga ikut ia lampirkan.

Jika kamu menerima lamaran ini, aku akan segera menemui orangtuamu. Tapi jika tidak, cukuplah kamu mengenal aku sebagai Rama laki-laki yang berpenampilan urakan meski aslinya berwajah tampan. 😀

Surat lamaran itu diakhiri dengan sebaris nomor telpon yang tanpa berpikir panjang lagi segera aku eksekusi.

Cinta dan kebencian ataupun rasa bersalah yang terjadi di masa lalu, jika belum selesai  maka ia akan kembali menemuimu di masa yang akan datang.

Written by

Yulia Gumay

Assalamu'alaikum ...

Halo, Saya Yulia.
Mba-mba kantoran yang cinta Traveling. Suka masak, tapi ngga suka makan.

Apa yang saya posting di blog ini merupakan tulisan pribadi saya kecuali jika saya menyebutkan sumber lainnya. Di sini Anda akan menemukan sesuatu yang mungkin penting dan tidak penting. Tapi saya tetap berharap ada manfaat yang Anda dapat meski mungkin keberadaan Anda di sini karena tersesat.

Terima kasih banyak sudah berkunjung. Lain waktu datang lagi yaaa!!! :D