Siapa yang tidak akan berdecak kagum ketika mata diperkenankan menatap kecantikan salah satu lukisan Tuhan yang amat menawan. Butuh perjuangan, memang, untuk bisa sampai pada titik pandang tanpa ada penghalang.

Kali ini Puncak Seruni adalah pilihan yang akan menjadi titik tertinggi tujuan kami menanti kedatangan sang mentari pagi, meski harus menaklukkan gelap dan cuaca dingin dini hari.

 

Perjalanan dimulai pada pukul 01.15 wib. Rombongan kami yang berjumlah 20 orang harus dibagi menjadi 4 kelompok, karena Jeep yang akan membawa kami mengarungi pekatnya malam itu, hanya bisa diisi sebanyak 6 orang saja termasuk driver.

Sebelumnya kami sudah menyiapkan segala keperluan mendaki mulai pada pukul 00.00 wib. Baju hangat, sepatu, sarung tangan, kupluk, syal, bahkan yang tidak kalah penting tentunya adalah handphone, kamera, serta power bank sebagai antisipasi ketika nanti daya yang ada tidak mencukupi untuk merekam setiap momen yang terjadi di Puncak Seruni.

Aku memilih duduk di samping driver, selain bisa menggali informasi lebih banyak tentang perjalanan kami dari pengemudi Jeep yang kami tumpangi, dari jok depan, tentu aku akan lebih leluasa merekam setiap spot yang nanti akan kami lewati sepanjang perjalanan.

Setelah berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing, kami memulai perjalanan malam itu dengan mengarungi pekatnya malam. Berbekal lampu Jeep serta cahaya lampu jalan, Jeep yang menawa kami melaju di atas jalanan aspal yang tidak terlalu luas. Perjalanan tersebut memang sedikit membuat bulu kuduk berdiri karena jurang curam yang menganga kiri kanan di sepanjang perjalanan.

Sesekali aku meniupkan udara dari mulut pada kedua telapak tangan, berkali-kali merapatkan baju hangat yang membalut tubuh, berharap bisa sedikit membantu menghalau dingin yang menyelinap melalui kaca jendala Jeep yang sengaja tidak ditutup rapat.

Hampir satu jam kami melewati jalanan aspal sebelum Jeep yang membawa kami sampai pada pos pertama lalu menuruni jalan setapak di sela-sela rerumputan liar yang makin tinggi menjulang.

Jalan setapak yang dilapisi semen, kami tempuh hanya dalam waktu kurang lebih 10 menit, dan kemudian melalui jalan berpasir dengan medan yang menurutku cukup berliku. Setelah kira-kira 20 melewati jalanan berpasir, Jeep yang kami tumpangi mulai masuk ke sebuah perkampungan dengan jalanan yang cukup menanjak. 30 menit kemudian, sampailah kami pada titip pemberhentian terakhir Jeep dan kami pun bergegas turun, bersantai sejenak, di sebuah warung yang menyediakan minuman hangat, toilet umum, bahkan di sini kamu juga bisa membeli sarung tangan, kupluk, hingga syal.

Dari keterangan pengemudi Jeep, ini adalah lokasi terakhir Jeep diperbolehkan membawa penumpang. Hal ini juga terlihat karena adanya portal pembatas jalan yang dipasang dan dikunci sehingga tidak ada kendaraan jenis apapun yang bisa naik ke atas. Selanjutnya pengunjung harus menaiki tanjakan yang cukup tajam dengan berjalan kaki. Namun jika kamu tidak sanggup berjalan kaki, kamu bisa menyewa jasa penunggangan kuda yang ramai ditawarkan ketika kamu sampai di sana. Perlu juga kamu ketahui bahwa di sini tidak tersedia jasa gendong.

Jika tidak terbiasa menaiki tanjakan dengan berjalan kaki, terlebih tidak ada persiapan sama sekali, sebaiknya jangan mengambil resiko. Lebih baik menyewa jasa penunggangan kuda daripada kamu mengalami sesuatu yang tidak diinginkan. Namun ketika menyewa jasa penunggangan kuda, kamu juga harus pintar menawar harga, tapi tentu saja kamu juga tidak boleh keterlaluan menawar harga. Harga yang ditawarkan antara 50-100rb rupiah untuk satu kali tunggangan kuda.

Pendakian yang diperkirakan sekitar 20 menit itu, memang cukup menguras tenaga, terlebih aku sudah lama tidak melakukan pendakian atau olahraga. Beberapa kali aku memilih berhenti sejenak seraya mengambil nafas panjang dan berat. Udara dingin pun tanpa toleransi makin leluasa menyusup di balik baju hangat yang membalut tubuh,

Setelah 20 menit, akhirnya kami sampai pada titik pertama sebelum melanjutkan langkah menaiki anak-anak tangga. Di sini kami bersantai sejenak seraya mendekat kepada api unggun yang dinyalakan pemilik warung untuk pendaki yang mungkin butuh ‘kehangatan’ (eh gimana-gimana?)

Setelah memulihkan kembali tenaga dan tubuh sudah terasa sedikit hangat, kami melanjutkan kembali langkah kali menapaki satu persatu anak tangga berjumlah lebih dari 250 anak tangga yang mengular. Tidak perlu digambarkan bagaimana lelahnya perjalanan yang begitu menyita tenaga ini. Namun ketika sampai pada anak tangga teratas, semua lelah, penat, dingin, nafas terengah, bahkan umpatan yang sempat terlontar sepanjang perjalanan,, berganti dengan kelegaan luar biasa serta hati dan mulut yang tak henti bertasbih megagungkan nama-Nya.

Tak kuhiraukan suara riuh rendah para penjual makanan dan minuman yang menawarkan dagangannya, mataku hanya fokus pada satu titik yang meski masih berselimut gelap, namun lampu-lampu mampu memberikan sentuhan keindahan seiring fajar yang perlahan menyingsing.

Aku dan 4 teman lainnya yang sampai lebih dulu di Puncak Seruni, bergegas mengambil lokasi yang tepat seraya menyiapkan kamera dan memastikan berada pada posisi yang pas untuk merekam momen matahari terbit yang sebentar lagi akan memamerkan kecantikannya.

Beberapa pengunjung lain yang mulai menyesaki lokasi tersebut juga tidak mau kalah dan ketinggalan menyiapkan alat rekam untuk mengabadikan momen mengagumkan tersebut. Beruntung cuaca pagi itu juga sangat bersahabat, sehingga kami pun tidak perlu khawatir diguyur hujan.

Untuk mendapatkan hasil foto terbaik, di beberapa spot foto kami memang harus sabar dan antri karena arus pengunjung yang semakin ramai berdatangan. Terlebih pagi itu awan terlihat sangat tebal, sehingga kami harus sangat jeli ketika membidikkan kamera demi mendapatkan hasil jepretan yang paripurna.

Selain matahari terbit, Pananjakan Seruni juga menampilkan pemandangan cantik Gunung Batok yang berada satu lokasi dengan Gunung Bromo. Meski masih diselimuti awan yang pagi itu betah bertengger di puncak Gunung Batok, namun masih jelas memperlihatkan gurat-gurat kecantikan yang berhasil membuat kami berulang kali berdecak kagum seraya bertasbih mengagungkan nama Penciptanya.

“Seyogyanya setiap perjalanan yang kita lewati bukanlah untuk membuat diri kita berbangga karena pernah menginjakkan kaki di mana-mana. Namun semakin tinggi tempat yang kita jejaki, akan menjadikan kita semakin rendah diri dan hati karena tidak ada yang besar di hadapan Allah, meski kau berhasil menaklukkan titik tertinggi di bumi ini.” -Yulia Gumay

Written by

Yulia Gumay

Assalamu'alaikum ...

Halo, Saya Yulia.
Mba-mba kantoran yang cinta Traveling. Suka masak, tapi ngga suka makan.

Apa yang saya posting di blog ini merupakan tulisan pribadi saya kecuali jika saya menyebutkan sumber lainnya. Di sini Anda akan menemukan sesuatu yang mungkin penting dan tidak penting. Tapi saya tetap berharap ada manfaat yang Anda dapat meski mungkin keberadaan Anda di sini karena tersesat.

Terima kasih banyak sudah berkunjung. Lain waktu datang lagi yaaa!!! :D