DISCLAIMER :
Nama, kejadian, tempat, lembaga, serta semua tokoh yang ada di cerita ini adalah nyata. Tidak ada satu pun yang disamarkan.

***

Tidak ada yang salah dengan kalimat “Tuhan tidak akan mengambil sesuatu yang terbaik dari hamba-Nya kecuali akan Dia gantikan dengan yang lebih baik.” Hanya saja sebagai manusia biasa, sebagai anak perempuan yang kala itu baru akan menginjak pendidikan TK (Taman Kanak-kanak), rasanya akan sangat sulit menerima dengan hati yang ikhlas ketika salah satu nikmat fisik yang dititipkan Allah kepadaku, diambil kembali oleh-Nya, hingga tidak ada satupun dari ahli medis yang mampu mengembalikannya.

Namaku Yesi Elfisa, yang kesehariannya aku dipanggil Yesi. Terlahir dari keluarga sederhana sebagai anak bungsu dari tiga bersaudara. Aku terlahir dengan keadaan fisik yang normal seperti bayi lainnya. Namun pada usia empat tahun, fisikku mengalami perubahan hingga menyebabkan aku tidak bisa lagi berjalan normal hingga sekarang.

Kejadian itu berawal ketika aku mengalami demam panas, yang oleh kedua orang tuaku, aku dibawa berobat ke tempat praktek dokter di daerah Muaro Bungo, dengan jarak tempuh lebih dari dua jam perjalanan dari tempat tinggal kami di daerah Merangin. Kami sampai di sana menjelang tengah malam. Ketika sampai, seorang dokter praktek langsung menangani aku dengan memasangkan infus di kaki kiriku.

Tanpa pernah terbayangkan sebelumnya bahwa jarum infus itulah yang menjadi akhir kakiku tidak bisa berjalan normal. Dan sebagai awal semua ujian kesabaran yang aku jalani. Kesalahan yang tampak sepele, namun membekas hingga aku harus menerima semua ejekan dari teman-teman yang menganggap aku berbeda dengan mereka.

Beberapa jam setelah jarum infus disuntikkan ke kakiku, semuanya terlihat normal dan biasa-biasa saja, namun keesokan harinya kaki kiriku membengkak hingga membentuk luka bakar dan bernanah. Meski suhu badanku sudah menurun, namun kakiku semakin membengkak dan masih seperti luka bakar. Setelah ditelusuri penyebabnya ternyata jarum infus yang digunakan sang dokter, sudah tidak steril lagi. Karena sudah digunakan untuk pasien sebelum aku.

Kami pulang ke Merangin dan mencari tempat pengobatan. Selama pengobatan itu, aku tidak bisa berjalan. Hanya bisa beringsut sedikit demi sedikit menggunakan pantat. Akibatnya rambutku juga mengalami kerontokan dan badanku menjadi kurus. Butuh satu tahun untukku bisa berjalan lagi. Namun setelah satu tahun berobat, kakiku yang tadinya besar, kini mengecil dan mengakibatkan aku tidak bisa berjalan normal.

Meski kala itu aku masih anak-anak yang baru menginjak usia enam tahun, namun rasa minder akan kekurangan fisik yang aku alami bersarang begitu hebat dalam diriku. Terlebih ketika aku mulai masuk Sekolah Dasar. Hampir semua teman memandangku dengan tatapan aneh ketika aku lewat di depan mereka. Hingga ejekan-ejekan yang mengatakan aku sebagai kaki bengkok yang jalannya tidak lurus, sering kali membuat aku menangis ketika pulang dari sekolah.

Namun orangtuaku selalu berhasil melapangkan hatiku dan mengatakan bahwa aku tidak boleh membalas mereka, biarlah Allah yang nantinya membalas. Hingga ketika menamatkan Sekolah Dasar, Bapak membujukku untuk melanjutkan pendidikan di pesantren saja supaya nanti aku bisa memakai rok panjang agar kakiku yang mengecil tidak kelihatan.

Ternyata dengan bersekolah di Pesantren, bukan hanya menjadi rencana Bapak, tetapi juga rencana Tuhan. Karena beberapa tahun kemudian baru aku ketahui bahwa diam-diam diluaran sana, ada seorang pemuda yang bermunajat kepada Tuhan, meminta jodoh yang salah satu kriterianya adalah seorang gadis yang pernah mengenyam pendidikan di pesantren.

Aku mengiyakan dan bersekolah di pesantren Syekh M. Djamil, Juho, Padang Panjang, Sumatera Barat. Ketika masuk ke pesantren, ejekan dan tatapan aneh dari teman-teman tidak serta merta hilang begitu saja. Masih banyak dari mereka yang sering berbisik-bisik ketika melihat aku yang berjalan pincang di depan mereka.

Sebagai remaja yang baru beranjak dari usia anak-anak, aku memang belum memiliki benteng pertahanan yang begitu kuat untuk menghadapi omongan teman-teman yang seolah mengucilkan aku karena berjalan tidak normal seperti mereka. Hingga suatu hari, aku pernah melarikan diri dari asrama tanpa meminta izin terlebih dahulu kepada ustadz. Lalu pulang ke Merangin yang jaraknya hampir memakan waktu semalaman di dalam bus, hanya karena tidak tahan dengan tatapan sinis teman-teman yang seolah mencela kekurangan fisikku.

Kembali lagi orang tuaku membujuk dan melapangkan hatiku. “Tidak usah sedih dengan perlakuan teman-temanmu,” kata Bapak menghiburku. Aku tahu ketika Bapak mengatakan itu, Bapak pun sedang menyimpan iba dan tangisnya. Hanya saja Bapak dan Ibu tidak ingin aku bertambah sedih melihat tangis mereka. Karena sebenarnya mereka lah yang paling bersedih atas kekurangan fisik dan ejekan teman-teman yang aku terima.

“Meski fisikmu tidak sempurna seperti teman-temanmu, tapi kamu punya kelebihan lain yang belum tentu dimiliki oleh teman-temanmu,” lanjut Bapak membesarkan hatiku.

Benar apa yang dikatakan bapak. Fisikku memang tidak sempurna, namun aku punya kecerdasan intelektual yang dianugerahkan Allah padaku. Itu terbukti selama enam tahun menempuh pendidikan di pesantren, aku selalu menjadi pemegang juara umum. Menjadi Sekretaris OSIS. Wakil ketua OSIS hingga menjadi juara 2 baca kitab gundul podok pesantren se Sumatera Barat.

Setelah banyaknya prestasi yang aku peroleh, aku mulai menyadari bahwa kekurangan fisik hanyalah nikmat kecil yang diambil Allah dariku. Aku sadar dengan kekuranganku, karena itu aku mencari cara harus bisa menambal kekurangan itu dengan sesuatu hal yang nantinya tidak akan membuat orang merendahkan aku. Tidak membuat orang memandang aku dengan sebelah mata. Meski cacat fisik, tapi aku harus menjadi orang yang berpengaruh di dalam masyarakat dan lingkunganku.

Tekad untuk sukses diperkuat lagi karena teringat akan ejekan teman-teman yang dulu mengatakan aku sebagai kaki bengkok yang berjalan tidak lurus. Kalimat itu masih sangat membekas dan menyulut api semangat dalam diriku. Hingga aku bertekad kuat untuk bersekolah setinggi-tingginya demi membuktikan bahwa kekurangan fisik bukanlah penghalang untuk menjadi sukses.

Ketika menamatkan pendidikan di Pondok Pesantren, aku melanjutkan kuliah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Thaha Saifuddin, Jambi dan mengambil Program Study Bahasa Inggris. Keputusan ini juga yang mengantarkan aku bertemu dengan seorang pemuda yang akhirnya menjadi imamku, karena rasa kagumnya mendengar percakapanku dengan seorang warga negara asing menggunakan bahasa inggris.

Selama menyelesaikan pendidikan Sarjanaku, aku mendapat banyak beasiswa prestasi dari kampus hingga mengantarkan aku menjadi mahasiswa pertama di kelasku yang diwisuda. Prestasiku tidak menurun meski tatapan aneh dari orang-orang baru masih memandangku dengan pandangan yang sulit aku artikan. Hingga pada semester akhir perkuliahan, aku ditunjuk untuk mewakili kampus mengikuti lomba karya tulis ilmiah MTQ Mahasiswa Nasional di Palembang.

Waktu berlalu, satu minggu setelah diwisuda, aku mulai bekerja sebagai seorang dosen di Sekolah Tinggi Keguruan dan Imu Pendidikan Yayasan Pendidikan Merangin (STKIP YPM), Kabupaten Merangin. Lalu untuk menunjang karirku sebagai dosen, kampus memberikan beasiswa penuh untukku melanjutkan pendidikan Pascasarjana di Universitas Negeri Padang (UNP) Sumatera Barat. Aku pun mengambil cuti belajar dan fokus menyelesaikan kuliah.

Pada tahun 2011, seluruh dosen dan staff STKIP YPM Merangin, diagendakan akan mengadakan perjalanan wisata rohani ke Jakarta. Aku yang kala itu masih mengambil cuti mengajar dan sedang berada di Padang, juga ikut serta dalam perjalanan itu. Ternyata dalam perjalanan itulah Allah menyelenggarakan rencana-Nya.

Aku percaya tiada hal yang kebetulan. Saat itu laki-laki yang sekarang menjadi suamiku, juga merupakan bagian dari rombongan perjalanan wisata itu, karena dia juga mengajar di kampus yang sama tempatku mengajar. Hanya saja kami tidak pernah saling mengenal, dikarenakan ketika ia mulai masuk menjadi dosen di sana, ketika itu pula aku mengambil cuti belajar menyelesaikan S-2 ku di Kota Padang.

Perkenalan kami pun tampak seperti kebetulan. Itu terjadi ketika rombongan kami mengunjungi Monumen Nasional (Monas). Seperti biasanya, tempat-tempat bersejarah seperti itu juga akan banyak dikunjungi oleh para turis mancanegara yang sedang berwisata ke Indonesia.

Aku iseng menyapa salah satu turis yang ada di sekitarku. Bukan semata hanya ingin bersikap ramah, sebagaimana adat ketimuran Indonesia, tapi hal itu juga aku lakukan untuk mengasah kemampuan Bahasa Inggrisku. Ternyata saat dialog itu, tanpa aku sadari ada sepasang mata yang sedang mengamati aku dan menguping pembicaraan kami. Bukan menguping karena curiga, tapi karena rasa kagum akan kemampuanku berbahasa asing.

Selesai dialog tersebut, laki-laki itu yang memperkenalkan diri bernama Saukani, menyapaku dengan senyum khasnya. “Adek dosen Bahasa Inggris, ya? Hebat,” pujinya dengan binar mata kagum. Aku tersenyum mendengar pujian yang tanpa basa-basi itu.

Lalu perkenalan berlanjut di dalam Bis yang membawa kami pulang ke penginapan. Perkenalan tidak hanya sampai di situ, karena ketika selesai perjalanan wisata rohani itu, kami pun saling bertukar nomor handphone.

Setelah pertemuan itu, kami memang tidak pernah bertemu lagi karena aku tidak ikut pulang ke Bangko bersama mereka, karena harus menyelesaikan kuliahku di Padang. Namun beberapa kali obrolan kami berlanjut melalui telpon. Tidak ada obrolan yang mengarah kepada hubungan antara laki-laki dan perempuan, hanya saling berbagi ilmu dan pengalaman. Hingga satu bulan kemudian, dia menelpon dan mengatakan ingin bertamu ke rumahku.

Tidak tahu apa maksud dari kata “bertamu” itu. Hanya saja aku tidak mau berfikir terlalu jauh, apalagi berharap bahwa antara kami akan ada hubungan yang lebih serius. Aku sadar dengan kekurangan fisikku, dan melihat dia, aku yakin sangat banyak wanita di luaran sana yang menggilainya. Karena selain punya pekerjaan yang mapan, dia juga memiliki perawakan yang memenuhi kriteria sebagai laki-laki idaman.

Ternyata niatnya bertamu ke rumahku bukan sekedar omongan belaka, dia benar-benar datang ke rumah meski kala itu aku masih berada di Padang. Dia berkenalan dengan kedua orangtuaku. Hingga satu bulan kemudian, ketika aku pulang ke Merangin, dia mengajakku bertemu dengan kedua orangtuanya.

Melihat kedekatan kami, tentu saja orangtuaku tidak mau hanya diam saja membiarkan anak perempuannya tanpa tahu apa maksud dan tujuannya mendekatiku. Tanpa banyak basa-basi, Bapak memintanya menemui beliau. Aku masih ingat betul jawaban yang dia berikan ketika Bapak bertanya tentang keseriusannya.

“Kalau saya cari pacar, mungkin saya bisa dapat banyak. Tapi kalau untuk dijadikan istri, saya cuma mau dengan Yesi,” ujarnya menjawab pertanyaan Bapak tanpa ada tersirat ragu atau dusta dalam kalimatnya.

Semuanya memang sangat singkat, hingga akhirnya kami memutuskan menikah, setelah tiga bulan semenjak pertemuan pertama di puncak Monas.

Setelah resmi diperistri oleh dia, barulah perasaan minder akan kekurangan fisik, berangsur menepi. Karena aku baru benar-benar menyadari bahwa Allah adalah Dzat yang tidak pernah ingkar janji. Seperti janji-Nya bahwa Dia menciptakan manusia berpasang-pasangan.

Meski dulu aku sempat drop akibat tersirat dalam benakku pikiran negatif, akankah ada laki-laki yang mau memperistri wanita cacat sepertiku? Tapi kini aku saksikan betapa Maha Adilnya Allah. Karena Allah tidak menilai kita dari fisik, melainkan dari hati. Sesuai dengan janji-Nya bahwa wanita yang baik, adalah untuk laki-laki yang baik, begitu pula sebaliknya.

Tidak henti-hentinya Allah menghujaniku dengan berbagai nikmat-Nya. Setelah menikah, lagi-lagi aku mendapat beasiswa dari Pemerintah Daerah Kabupaten Merangin dan Beasiswa penelitian LPDP dari Kementerian Keuangan, untuk melanjutkan kuliah S3 di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Thaha Saifuddin, Jambi.

Selama menyelesaikan pendidikan S-3, meski kala itu kami sudah dikaruniai seorang putra, bernama Syahdu Widana Ikrori, namun fokus dan prestasiku tidak surut sedikit pun. Meski harus bolak-balik Merangin-Jambi, alhamdulillah aku masih bisa membagi waktu antara keluarga dan pendidikan ditambah lagi dengan pekerjaanku sebagai seorang Dosen.

Dalam proses menyelesaikan S-3, Aku pernah menjadi pembicara seminar Internasional di Jami’ah Islam Syeikh Dauh Al-Fhatani (JISDA), Thailand Selatan. Hingga menamatkan S-3 dan mendapat gelar Doktor dengan Predikat Cumlaude, IPK 3.80 di usia 30 tahun dan menjadi Doktor termuda di Kabupaten Merangin, Jambi.

Lima bulan setelahnya, alhamdulillah kami dianugerahi lagi seorang putri yang kami beri nama Syahda Wafa Hafizah.

Dalam hidup, tidak semua hal akan berjalan sesuai dengan kehendak kita. Karena ketika kita berencana, Allah pun punya rencana. Namun rencana Allah adalah sebaik-baiknya rencana, karena Dia adalah yang Maha Mengetahui apa yang akan terjadi ke depannya. Hidup sudah ada yang mengatur, tugas kita hanya menjalani dan melakoni dengan sebaik-baiknya. Tidak ada yang terjadi secara kebetulan. Tuhan adalah Dalang yang Maha Sempurna. Kita sebagai anak wayang, hanya bertugas mengikuti peran sesuai skenario-Nya. Dan berperanlah mengikuti arahan Sang Dalang.

Jadikan keluarga sebagai benteng pertahananmu menghadapi pandangan miring orang-orang di luaran sana. Karena tidak ada orang yang paling menginginkan kesuksesanmu kecuali mereka yang benar-benar dekat denganmu. Terutama kedua orang tuamu. Teruslah meminta doa mereka di setiap langkah hidupmu. Karena doa yang tidak pernah terhijab dengan Tuhan adalah doa kedua Ibu Bapakmu.

Terima kasih untuk dukungan keluarga yang telah menyokongku hingga mencapai cita-cita. Terlebih rasa terima kasih dan syukur kepada Allah yang telah menganugerahiku seorang imam yang tidak pernah mempermasalahkan kekurangan fisikku. My lovely husband, Saukani, SE, M.Ak. laki-laki yang akan membimbing langkahku ke syurga-Mu. Insya Allah.

_____

Ditulis oleh : Yulia Gumay
Dari Kisah : DR. Yesi Elfisa, M.Pd. (Yulia’s Aunty)

Written by

Yulia Gumay

Assalamu'alaikum ...

Halo, Saya Yulia.
Mba-mba kantoran yang cinta Traveling. Suka masak, tapi ngga suka makan.

Apa yang saya posting di blog ini merupakan tulisan pribadi saya kecuali jika saya menyebutkan sumber lainnya. Di sini Anda akan menemukan sesuatu yang mungkin penting dan tidak penting. Tapi saya tetap berharap ada manfaat yang Anda dapat meski mungkin keberadaan Anda di sini karena tersesat.

Terima kasih banyak sudah berkunjung. Lain waktu datang lagi yaaa!!! :D