Seperti biasa, ia berjalan tergesa memacu langkah cepat seraya tangan kanannya sedikit mengangkat sisi kain bagian bawah, supaya tidak tersentuh tanah. Di bahu kirinya tersampir satu kain berwarna kontras dengan kain penutup seluruh bagian tubuhnya yang berwarna putih. Mama bilang, penutup tubuh itu namanya mukena. Kain yang digunakan wanita muslim ketika ingin mengerjakan ibadah shalat.

Ini adalah kali kesekian kulihat pemandangan sama semenjak kuhuni rumah kontrakan ini yang letaknya bersebrangan dengan sebuah Masjid yang berjarak sekitar lima meter itu.

Bermula dari ketidaksengajaanku menyingkap tirai yang menutupi jendela kamarku, ketika sayup-sayup kudengar adzan subuh berkumandang. Aku sempat terkejut ketika pertama kali ia melintas persis di trotoar jalan di depan kamarku yang hanya dipisahkan oleh sebuah pagar besi. Aku yang kala itu belum sepenuhnya terjaga, seketika terbelalak, karena memoriku langsung mengakses kepada bayangan-banyangan makhluk alam lain yang kerap gentayangan hampir diseluruh stasiun TV.

Namun beberapa menit berselang, ketika ia sudah menyebrang jalan menuju Masjid yang pintunya menghadap ke kontrakanku, barulah aku bernafas lega karena ternyata ia adalah makhluk sama denganku.

Semenjak saat itu, aku selalu terjaga kala adzan subuh berkumandang. Meski terkadang aku berusaha bersembunyi di balik selimut menghindari seruannya. Bak alarm otomatis yang membentuk kebiasaan baru untukku. Kebiasaan ‘mengintip’ ia yang selalu berjalan tergesa ketika panggilan shalat subuh memenuhi setiap rongga udara.

Setiap kali ia menghilang di balik tembok Masjid, aku selalu duduk termenung mengenang saat-saat subuh begini, ketika Ibu tanpa pernah bosan berusaha membangunkan aku yang juga tak pernah bosan menolak seruannya.

“Subuh, Nak!” lembut suara ibu membisikkan telingaku.

“Masih gelap, Bu.” tolakku seraya menarik selimut hingga menutupi sampai ke kepala.

Ibu mencoba lagi hingga beberapa kali, namun tetap saja gagal. Hal itu terus terulang setiap subuh, hingga aku menginjak usia 18 tahun.

“Subuh, Nak!” begitulah suara khasnya membangunkan aku.

Ibu duduk di sisi tempat tidurku. Menasihati aku yang masih berbaring dan pura-pura terlelap di balik selimut. Meski mataku tetap terpejam, namun telingaku jelas merekam setiap bait-bait kalimatnya. Dan Ibu pasti tahu itu.

“Nak, ibu membangunkan kamu bukan tanpa alasan. Ibu tau kamu lelah. Ibu tau kamu capek, ngantuk. Tapi ibu tidak mau kamu dibakar di dalam api neraka. Hanya dengan begini ibu bisa berusaha menyelamatkan kamu. Karena kelak ketika hari itu tiba. Hari di mana semuanya akan diperhitungkan, sungguh, sedetik pun ibu tidak bisa membela kamu di hadapan pengadilan Tuhan, Nak.”

Aku tetap saja bergeming. Hingga akhirnya ibu menyerah. Benar-benar menyerah. Meninggalkan kamarku, meninggalkan rumah kami, bahkan meninggalkan dunia ini.

Setelah Ibu tiada, barulah timbul sesal, karena tak satu kali pun kuturuti inginnya. Namun penyesalan itu hanya bertahan selama satu bulan setelah kepergian Ibu. Setelah itu, aku bukan hanya tidak mengerjakan inginnya, tapi aku bahkan tidak lagi mengindahkan aturan agama yang dikenalkan ibu kepadaku.

***

Sulit menemukan kontrakan yang letaknya berjauhan dengan Masjid di daerah yang penduduk aslinya seratus persen muslim ini. Jika kalian berkunjung ke sini, sebuah kabupaten yang berada dalam kepungan bukit barisan ini, kalian akan temukan ratusan, atau mungkin bahkan ribuan Masjid dan Mushalla yang mendominasi rumah ibadah, selain dua rumah ibadah lain bagi pendatang non-muslim yang tinggal di sini.

Lingkungan sekitar kontrakanku, pegawai kantor Bank tempatku bekerja, pemilik kantin, rumah makan, pegawai puskesmas di samping kantorku, semuanya muslim. Hal ini berpengaruh juga kepada cara pandang dan perilakuku yang semula tinggal di tengah-tengah masyarakat minoritas muslim.

“Di sini kita minoritas, Jo,” kata salah satu teman kantorku yang sudah satu tahun bekerja di kantor Bank tempat ku bekerja sekarang.

“Tapi nggak pa-pa, kok. Mereka semua nggak memandang kita beda,” lanjutnya lagi penuh perhatian.

Aku bingung. Tidak mengerti kenapa Rully bisa sangat yakin bahwa aku menganut keyakinan sama dengannya. Aku tidak pernah mengatakan agamaku apa. Dia pun tidak pernah bertanya. Tapi kenapa dia ….

Setelah satu minggu fikiranku terusik oleh kata-kata Rully, baru aku berani mengambil kesimpulan bahwa ia meyakini aku sebagai non-muslim, karena di kantor, hanya aku dan dia yang tidak pernah shalat.

Tidak. Aku tidak sama dengan Rully. Meski tidak pernah shalat, tapi aku bukan non-muslim. Aku …

Ah, terfikirkan lagi olehku tentang keyakinan yang sebenarnya aku anut. Aku pernah dibaptis. Tentu saja. Karena kala itu aku terlahir dari orangtua yang sama-sama menganut agama Kristen.

Aku katakan kala itu, karena ketika aku menginjak usia tiga belas tahun, Ibu akhirnya memutuskan kembali kepada agamanya semula. Agama yang ia anut sebelum ia memilih murtad ketika menikah dengan papa.

Aku yang kala itu belum begitu paham konsep agama dan Ketuhanan, pasrah saja ketika ibu melakukan syahadat keduanya dan aku pun mengikuti. Hingga aku menginjak dewasa, identitas keislamanku hanya sekedar pelengkap KTP saja. Diam di sana, tanpa adanya perbuatan sebagaimana muslim lainnya. Ditambah lagi ketika Ibu berpulang kepangkuan-Nya. Aku hidup sebatang kara. Memilih untuk tidak kembali kepada Papa, karena aku lebih senang hidup bebas tanpa aturan agama.

Hingga beberapa bulan kemudian semenjak Tuhan mentakdirkan aku bekerja dan tinggal di tengah-tengah masyarakat mayoritas muslim, semuanya berubah. Berubah ketika kulihat langkah kaki yang sama berjalan tergesa di depanku. Langkah kaki yang selalu membuat aku ingin terjaga ketika adzan subuh menggema. Langkah kaki yang membuat aku selalu berimajinasi membayangkan wajah pemiliknya yang selalu kulihat samar di bawah sinar lampu jalan yang temaram. Kali ini aku bukan hanya melihat langkah khasnya. Tapi juga paras wajahnya.

Ya, aku yakin itu adalah langkah kakinya. Bagaimana mungkin aku tidak yakin. Langkah itu bukan hanya satu, dua kali kulihat. Tapi puluhan bahkan sampai ratusan kali kucermati setiap ayunan langkah dan pijakan alas kakinya.

Kembali kuteliti gerak cepat wanita berkerudung biru tua itu. Dari jas putih yang ia kenakan, kutahu ia seorang dokter yang mungkin berdinas di Puskesmas di samping kantor Bank tempat kubekerja.

Namun seketika jantungku berdegub kencang, lebih cepat dari biasanya, ketika kuyakin langkah kakinya menuju ke arah meja yang aku tempati. Semakin langkahnya mendekat, semakin jantungku memompa lebih cepat.

“Maaf, boleh geser sedikit?” katanya seraya tersenyum.

Aku baru tersadar ternyata kursi yang aku duduki bersebelahan dengan pintu keluar alternatif menuju tempat shalat rumah makan tersebut.

“Oh …, iya,” kataku terbata seraya menggeser kursi.

Gadis itu mendorong pintu yang terbuat dari kaca. Aku tetap memperhatikan gerak-geriknya meski tidak secara terang-terangan.

Ia membuka sepatunya dan memakai sandal yang tersedia. Kulihat dengan jelas ia menuju kran air yang berjejer di sana. Kemudian melepaskan peniti yang menautkan jilbabnya di bagian dagu. Memulai melakukan ritual dengan pertama berkumur-kumur dan membersihkan bagian hidungnya. Lalu melanjutkan membasuh muka, tangan, kepala, telinga dan terakhir membasuh kedua kakinya. Ini adalah ritual yang sering dilakukan Ibu, ketika ia ingin memanjatkan doa kepada Tuhan.

Selesai berwudhu, gadis itu berjalan menuju tempat shalat yang hanya seluas 3×3 meter itu. Aku melihat dengan jelas wajahnya yang masih basah karena air wudhu’. Entah kenapa ada kesejukan tersendiri ketika melihat raut teduh dari wajahnya yang sebagian tertutupi oleh kerudung yang ia kenakan.

“Woy …, hati-hati, zina mata,” ujar Rully mengagetkanku.

Aku tersentak dan mengalihkan pandanganku dari gadis itu yang sekilas kulihat sedang memakaikan mukena untuk segera melakukan ritual selanjutnya.

“Apaan sih kamu, Rul,” elakku.

“Siapa? Kamu kenal?” tanyanya.

Aku menggeleng seraya menyeruput jeruk hangat yang aku pesan.

“Berhijab. Beda agama, Jo,” tegurnya lagi.

Aku tidak menyahut.

Beberapa menit kemudian, dengan diam-diam kembali kualihkan perhatianku kepada gadis itu. Ia tampak sedang mengangkat kedua tangannya untuk berdoa. Setelah selesai, ia kembali membuka kain putih penutup tubuhnya dan membetulkan letak jilbabnya.

Lalu berjalan menuju ke arahku-ke arah pintu masuk maksudku. Kembali lagi jantungku berdegub kencang. Dengan perlahan ia membuka pintu, tersenyum kepadaku dan Rully. Kemudian berlalu meninggalkan kami menuju meja makan yang telah ditunggui dua orang temannya berpakaian sama.

“Beda sama kita, Jo,” katanya lagi mengingatkanku ketika Rully memergoki aku mengikuti langkah gadis itu dengan pandangan menyiratkan harapan.

“Iya, tau. Beda jenis kelamin, kan?” kataku cuek.

“Beda agama, Jo. Agama,” tegas Rully seolah aku tidak mengerti maksudnya.

“Emangnya kenapa? Emang aku tanya agamanya?”

Rully menghela nafas. Kesal dengan responku.

“Nggak usah cari-cari masalah, deh, Jo. Meski di sini susah dapat yang sama dengan kita, di Instagram kan, banyak. Tinggal klik aja. Janjian, ketemuan, deal.”

“Kamu fikir jual beli online?”

Rully nyegir nggak jelas.

“Kalo mau yang beda agama juga, nggak usah sama dia deh. Ribet. Tuhan mereka terlalu banyak aturan. Nggak boleh berduaan lah. Nggak boleh pegangan tangan lah. Bahkan saling pandang juga nggak boleh. Lalu apa gunanya Tuhan mereka ciptakan mata? Semuanya nggak boleh,” protes Rully entah pada siapa.

“Sepertinya kamu tau banyak tentang agama mereka.”

“Ya, itu karena dulu aku pernah dekat sama teman kampus yang sama dengan dia.”

“Lalu kenapa putus? Apa karena dia nggak ngijinin kamu pegang tangannya?”

“Salah satunya sih, itu.”

“Kamu sih, mikirnya jorok mulu.”

“Naluri laki-laki, Jo,” katanya tersenyum nakal.

“Larangan itu dibuat, tentu karena ada sebab dan akibatnya, kan?” kataku, sok tahu. “Misalnya Tuhan mereka mengharamkan minuman keras, itu karena efeknya nggak baik buat otak,” lanjutku, menirukan kata-kata Ibu ketika ia menasihatiku, dulu.

Ah …, Ibu. Seandainya saja Ibu masih ada. Ibu pasti bangga karena nasihat Ibu yang satu ini tidak pernah kulanggar. Cerita-cerita yang sering dikisahkan Ibu sebagai pengantar tidurku, tentang bahaya minuman keras, hingga saat ini masih melekat permanen dalam memori otakku. Kata Ibu minuman keras adalah induk dari segala kejahatan.

Aku yang kala itu masih menduduki bangku kelas 2 SMA, tidak begitu saja mengiyakan. Karena menurutku, masih banyak dosa yang lebih besar dari sekedar minuman keras. Membunuh, berzina, memperkosa, merampok. Bukankah itu lebih merugikan orang lain? Lalu apa ruginya orang lain ketika kita menenggak minuman haram itu?

“Benar. Ketika kamu meminumnya, memang tidak merugikan orang lain. Tapi bisakah  kamu menjamin apa yang akan terjadi setelah cairan itu mengaliri seluruh urat syarafmu? Bukankah ketika kamu kehilangan akal, semua dosa-dosa besar yang kamu sebutkan tadi, bisa terjadi karena tidak ada lagi pengendali?”

Perlahan ketika aku tumbuh menjadi remaja dan dewasa, aku mulai menguatkan keyakinanku tentang kalimat-kalimat Ibu. Fenomena yang berlaku di sekelilingku, membuktikan bahwa, benar biang dari segala kejahatan adalah minuman keras. Meski tidak mengenal Islam dengan baik, namun tetap kuharamkan lidahku bersentuhan dengan minuman penyebab gila (hilang akal) itu.

“Tapi kenapa, ya, dalam agama mereka, semua yang enak-enak itu hukumnya haram?”

“Tanya aja sama bang Haji Rhoma.”

“Loh, apa hubungannya?”

Aku meletakkan telunjuk di pelipis kanan.

“Mikir. Apa gunanya Tuhanmu ciptakan otak, jika kamu nggak bisa mikir? Itu tuh, akibat terlalu banyak minum tuak,” ledekku. “Kalo mau mabok, berkelas dikit, donk. Masa beraninya cuma mabok enam ribu.”

Rully tertawa keras, mendengar ledekanku.

***

“Sepertinya kita pernah ketemu sebelumnya.”

Aku tersenyum kecil, berusaha menyimpan gugup ketika gadis itu menyapaku saat di depan pintu masjid, tempat biasa ia menunaikan shalat subuh. Aku tidak menyangka memorinya menyimpan raut wajahku ketika pertemuan di rumah makan beberapa bulan yang lalu. Ketika pertama kali kulihat paras ayunya.

Belum sempat aku membuka mulut menjawabnya, ia meneruskan pertanyaannya yang kedua.

“Kamu yang waktu itu keluar dari gereja, kan?”

Sontak aku terbelalak. Memoriku berputar cepat mengingat kejadian hari itu. Aku melenguh pelan. Aku bukan ke gereja untuk beribadah, hanya menemani Rully, yang ketika itu memaksaku karena sepengetahuannya aku beragama sama dengannya. Beberapa kali aku menolak, namun Rully tetap memaksa dengan berbagai alasan. Akhirnya aku menyerah. Ikut bersamanya ke gereja.

Dan sialnya aku, ketika keluar dari gereja, aku berpapasan dengan gadis itu, yang sedang berjalan kaki di trotoar jalan yang hanya berjarak tiga meter dari pintu gereja. Jelas saja ia mengingat wajahku.

Tapi bukankah pertemuan di rumah makan, jarak kami lebih dekat? Kenapa ia lebih memilih mengingat yang di depan gereja, sih?

Pertanyaannya yang kedua begitu jelas di telingaku. Bahkan aku seperti menangkap kalimat itu berbunyi kamu Kristen, kan?

“Jadi sekarang maksudnya apa?”

Aku benar-benar dibuat malu, gugup, grogi, tanpa bisa memberikan penjelasan.

“Apa ini sebuah pelecehan?” tegasnya lagi.

“Bukan …. Aku …”

Aku tidak bisa meneruskan kata-kataku. Kulihat wajahnya menyimpan tatapan tidak suka kepadaku. Ini memang salahku. Bagaimana mungkin aku beribadah di dua tempat yang berbeda? Ini jelas pelecehan bagi mereka.

“Aku muslim.”

Reflek dua kata itu begitu mantap keluar dari mulutku. Bahkan semur hidupku, tidak pernah keluar sama sekali.

Ia menatapku penuh selidik.

Buru-buru kukeluarkan KTP dari dalam dompetku sebelum ia memberondongku dengan pertanyaan selanjutnya yang mungkin tidak bisa kujawab. Kusodorkan kepadanya. Dengan ragu ia mengambil KTP ku dan meneliti dengan seksama. Lalu ia mengembalikannya, dengan raut penuh tanya.

“KTP ini kan dari tahun ….”

Ia menggantung kalimatnya, dengan raut menerka-nerka.

“Aku tidak mengerti …. Maaf, apa kamu berniat murtad?”

Aku kembali terbelalak. Terkejut mendengar pertanyaan yang tanpa basa-basi. Begitu tegas, jelas dan blak-blakan untuk pertanyaan yang dilontarkan seseorang yang bahkan namanya pun belum kukenal.

Sejenak aku berfikir, memang seperti itulah harusnya aku bersikap. Tegas dan memperjelas kemana sebenarnya arah kiblatku. Karena agama bukan basa-basi.

Dengan setengah sadar aku menggeleng kuat. “Waktu itu aku hanya menemani teman,” kataku membela diri.

Ia terdiam. Tidak merespon. Hanya rautnya masih mengisyaratkan tanda tanya.

“Papaku Kristen. Ibuku murtad ketika menikah dengan Papa. Tapi ketika SMP, Ibu kembali kepada Islam dan aku ikut bersyahadat dengannya,” lanjutku pelan.

“Lalu …?”

Aku menelan ludah. Menghembuskan nafas. Tanpa basa-basi kuberanikan diri mengungkapkan perasaanku, tanpa peduli dengan jawaban yang akan aku terima.

“Aku suka sama kamu. Setelah bertemu kamu, aku yakin ingin menjadi muslim yang sebenarnya.”

“Karena aku?”

“Iya. Karena kamu,” jawabku mantap.

“Jika itu karena aku, lupakan saja.”

Sekali lagi mataku terbelalak. Kali ini disertai dengan mulut yang menganga. Gadis itu selalu saja membuat aku terkejut dengan kalimat-kalimatnya.

Bukankah jawabanku sudah benar? Kenapa dia tidak merasa tersanjung?

“Tapi kenapa? Aku benar-benar suka sama kamu.”

“Dalam Islam, sekecil apapun perbuatan baik yang kamu lakukan, harus selalu diniatkan karena Allah. Apalagi keputusan besar menjadi muslim. Banyak muallaf berstatus Islam hanya di KTP saja, karena mereka memeluk Islam bukan karena Allah. Tapi hanya sebagai syarat agar bisa menikah dengan wanita atau laki-laki muslim.”

Kali ini aku tidak terbelalak, tapi tercengang mendengar jawabannya.

“Aku tidak ingin kamu belajar Islam karena aku. Jika kamu benar-benar ingin belajar tentang Islam, niatkan atas nama Allah. Karena Allah. Bukan karena aku.”

“Maaf. Aku tidak tahu. Apa kamu mau mengajari aku apa dan bagaimana Islam?”

Dia tersenyum manis. Sangat manis. Bagiku. Senyum itu lah yang pertama kali membuat jantungku berdetak tanpa mengikuti iramanya. Sekarang pun masih sama. Jika saja Tuhan berkenan memperdengarkan ini kepadanya.

***

“Asyhadu allailahaillallah. Wa Asyhaduanna Muhammadarrasulullah.”
Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah.

Kini aku telah berganti nama menjadi Muhammad Faiz. Kuhampiri Naura yang juga menyaksikan syahadatku sore itu. Ia tersenyum manis kepadaku. Masih sangat manis. Bagiku.

Thanks, ya!”

“For what?”

“Untuk semuanya. Terima kasih untuk semua hadiah terindah karena telah menjadi perantara hidayah. Jika Allah merestui, maukah kamu memberiku satu hadiah lagi?”

Naura Mengernyitkan dahi, “hadiah apa?”

“Aku hanya ingin meminta kamu menjawab ‘YA’, tanpa kamu harus tahu apa pertanyaannya. Kamu tidak harus menjawab sekarang. Nanti, pertanyaannya akan aku utarakan di depan kedua orangtuamu juga.”

Naura kembali tersenyum. Senyuman yang membuat aku tidak sabar ingin segera menemui kedua orangtuanya. Senyuman yang membuat aku bertambah yakin bahwa dia akan menjawab, ‘YA’

Written by

Yulia Gumay

Assalamu'alaikum ...

Halo, Saya Yulia.
Mba-mba kantoran yang cinta Traveling. Suka masak, tapi ngga suka makan.

Apa yang saya posting di blog ini merupakan tulisan pribadi saya kecuali jika saya menyebutkan sumber lainnya. Di sini Anda akan menemukan sesuatu yang mungkin penting dan tidak penting. Tapi saya tetap berharap ada manfaat yang Anda dapat meski mungkin keberadaan Anda di sini karena tersesat.

Terima kasih banyak sudah berkunjung. Lain waktu datang lagi yaaa!!! :D