Mendung yang semula hanya mengundang gerimis, mulai bersambut dengan curah hujan yang perlahan semakin menjadi-jadi. Hawa dingin yang menyelinap melalui celah-celah jendela, memaksa aku menarik selimut yang semula kubiarkan saja.

Aku merebahkan kepalaku di paha Mama yang sedang fokus menyaksikan acara dialog para Lawyer dan beberapa unsur masyarakat lainnya. Mama membelai rambutku dengan lembut seraya matanya tetap fokus pada layar televisi. Aku hanya bisa berbicara dengannya ketika sedang jeda iklan saja, karena ketika acaranya sudah dimulai, jangankan merespon ucapanku, hujan badai pun mungkin dia tidak akan peduli.

Hanya televisi sebagai hiburan satu-satunya buat Mama. Dari televisi pula ia belajar banyak hal dan mengetahui perkembangan dunia luar. Meski pendidikannya hanya sebatas Sekolah Menengah Pertama (SMP), namun ia memiliki wawasan yang sangat luas tentang berbagai hal, sebut saja Hukum, Bisnis, dan Kesehatan.

“Ma, sebenarnya kenapa sih, Suami Mama ninggalin kita? Mama nggak pernah nanya?” tanyaku ragu-ragu.

Selama 18 tahun, ini adalah kali pertama aku memberanikan diri menanyakan hal itu. Suami Mama yang kumaksud adalah dia yang harusnya kupanggil Papa.

“Buat apa, Rin? Dia kasih alasan atau tidak, semuanya, kan sama saja,” jawab Mama tanpa mengalihkan pandangannya dari layar televisi.

“Ya …, setidaknya, kan jelas alasannya. Masa mama terima gitu aja. Kayak kita nggak bisa berbuat apa-apa untuk membalasnya,” ujarku sewot.

Aku memang sering memendam emosi, ketika berbicara tentang laki-laki yang bagiku tidak punya rasa tanggung jawab sama sekali. Namun ketika aku mulai mencari-cari kesalahan laki-laki itu, mama selalu saja punya jawaban yang membuat aku bungkam.

‘Saat kita merasa kecewa pada keadaan yang tidak sesuai dengan harapan kita, kita berhak untuk bersedih, kita berhak sakit hati, kita berhak menangis. Tapi kita tidak boleh dendam. Apalagi sampai membalas dengan perlakuan yang sama. Karena yang berhak menghukum perbuatan seseorang itu, hanya Tuhan,

Itulah salah satu kalimat-kalimat mama yang membuat lidahku tidak mampu berkutik lagi dan akhirnya aku memilih diam.

“Ikhlas saja menjalani peran yang sudah dituliskan Tuhan sesuai dengan kontrak yang telah kita tanda tangani di alam kandungan, dulu. Suatu saat, setiap orang akan menemui karmanya masing-masing. Makanya mama selalu mengingatkan kamu, agar berbuat baik kepada siapapun, termasuk kepada orang-orang yang menyakiti kita. Karena  jika niat dan perbuatan kita baik, maka kita akan mendapatkan balasan yang baik pula. Mungkin tidak segera, tapi itu pasti,” ujar mama tenang.

“Lalu, jika mama ikhlas menerima semua ini, kenapa Mama ngga nikah lagi?”

“Mama tidak butuh siapa-siapa lagi, Rin. Mama sudah cukup bahagia bisa selalu bersama kamu,” ujarnya beralasan. “Lagian mama sudah tidak ingin punya anak lagi, selain kamu. Nanti kalau mama menikah, papa tiri kamu pasti ingin punya anak lagi. Mama tidak mau membagi perhatian dan kasih sayang mama kepada yang lain,” lanjutnya tulus.

Aku terharu mendengar penuturan Mama. Seketika mataku berkaca-kaca. Namun dengan gerak cepat aku menghapus air mataku dengan ujung jari telunjuk, karena tidak ingin Mama melihatnya.

“Mama, kan masih muda. Baru 35. Menikah, kan bukan berarti cari teman buat tidur saja, Ma. Tapi biar mama ada teman ketika memecahkan masalah, berbagi pendapat, dan biar ada yang nemenin mama kalo Ririn lagi nggak ada di rumah. Lagian mama tidak selamanya muda, kan? Apa mama nggak ingin punya pendamping hidup untuk menemani hari tua mama nanti?”

Mama tersenyum menanggapi ucapanku yang terkesan memaksa. Tapi aku bisa melihat dari raut wajahnya yang belum terserang keriput itu, mama seperti sedang berpikir dan membenarkan penuturanku.

“Kamu kok udah sok tau aja tentang pernikahan,” ujarnya seraya tangannya mengacak-acak rambutku.

“Setau Ririn, jika kita mampu, nggak baik lama-lama hidup sendiri tanpa pasangan, Ma. Apalagi jika sudah berstatus sebagai janda …”

“… memangnya kenapa dengan janda?” Mama dengan cepat memotong kalimatku.

Aku menelan ludah sebelum melanjutkan kata-kataku, “status janda itu sensitif, Ma. Satu kali saja Mama senyumin suami orang, Mama bisa aja langsung dicap sebagai wanita penggoda dan perusak rumah tangga orang. Apalagi laki-laki di luar sana, lebih-lebih yang sudah beristri dan istrinya tidak melayaninya dengan baik, akan sangat rentan mendekati janda-janda muda seperti Mama. Ririn nggak mau tiba-tiba ada yang datang ke rumah, trus marah-marah nggak jelas karena mengetahui Mama senyumin suaminya,” tuturku panjang lebar.

Mama hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala mendengar penuturanku.

“Kamu kira Mama semurah itu? Jangankan suami orang, dikasih perjaka pun, Mama masih pikir-pikir,” balas Mama tanpa mau menyerah.

“Ririn percaya, Mama nggak bakal melakukan hal itu, tapi kan itu nggak menjamin mereka nggak menggoda Mama.”

“Ya …, itu sih pintar-pintar istrinya aja ngasih servis biar suaminya nggak jajan di luar,” balas Mama lagi seraya menyentil hidungku.

Aku memasang wajah manyun. “Minggu depan Ririn udah mulai kuliah lagi, Ma. Itu artinya Ririn nggak bisa lagi setiap hari nemanin Mama. Jambi-Kerinci itu jauh, Ma. Setidaknya Ririn nggak khawatir ninggalin Mama.” Aku memberikan argumen yang lebih kuat lagi.

“Memangnya Mama ini anak kecil yang harus kamu khawatirkan? Mama yang harusnya khawatir sama kamu di sana,” ujar Mama mencandaiku.

Aku merengut. Mama tersenyum melihat tingkahku.

“Memutuskan untuk menikah, tidak segampang itu, Rin. Apalagi bagi perempuan yang pernah gagal mempertahankan rumah tangganya. Nanti kamu juga bakal mengerti ketika kamu sudah sampai di usia yang matang untuk menikah,” jelasnya seraya senyum tipis. Berusaha menyembunyikan kerapuhannya.

Mama memang masih sangat muda, untuk ukuran perempuan yang sudah memiliki anak usia 18 tahun. Mama adalah yatim piatu dan terpaksa menikah ketika berusia 16 tahun karena tidak punya pilihan lain kecuali mengikuti nasihat pamannya, yang menyarankan untuk segera menikah supaya ada orang yang akan bertanggung jawab penuh kepadanya. Namun bukannya bertanggung jawab, laki-laki yang sampai saat ini tidak pernah kukenal rupanya itu, malah menambah beban dan meninggalkan Mama ketika usia kandungannya menginjak tujuh bulan, dan saat itu, aku lah calon bayi yang bersemayam di dalam rahimnya itu

“Kalo Ririn yang nyari, Mama mau nggak?” kataku memberikan tawaran.

Kalau kamu bisa menemukan laki-laki yang sesuai kriteria mama, silahkan.”

Kata setuju yang dilontarkan Mama memberi aku semangat untuk segera menemukan laki-laki itu. Meski tidak tahu harus memulai dari mana, tapi setidaknya Mama sudah memberi lampu hijau untuk menerima saranku.

Selama lima tahun terakhir ini, Mama sangat sibuk mengurus usaha toko kuenya yang menjual berbagai macam camilan dan kue-kue khas daerah Kerinci, yang biasanya dijadikan oleh-oleh bagi wisatawan yang datang berkunjung. Kesibukan itu juga yang membuat Mama terlalu betah dengan kesendiriannya tanpa memikirkan untuk mencari pengganti laki-laki yang tak sudi kusebut namanya itu.

Usahanya bermula dari berjualan kue-kue basah yang ia titip di warung-warung kecil dan kantin-kantin sekolah. Beberapa tahun kemudian, kue-kue yang dibuat Mama mendapat respon yang baik dari masyarakat sekitar, hingga akhirnya Mama menerima banyak orderan dari tetangga yang sering mengadakan acara syukuran dan arisan. Selama 15 tahun Mama melakukan pekerjaan itu sendiri, sampai ia bisa mengajukan pinjaman ke Bank dan mendirikan sebuah ruko kecil.

Aku sendiri tidak pernah melihat bagaimana perjuangan Mama merintis bisnisnya mulai dari nol. Mama sangat pandai menyembunyikan setiap masalah yang ia alami. Ia hanya selalu memperlihatkan raut wajah tersenyum kepadaku. Sehingga aku tidak pernah tahu, kapan ia sedang bersedih.

***

Kembali ke Kota Jambi, sama halnya kembali beradaptasi dengan cuaca panas yang sangat menyengat. Seperti semester lalu, selain kegiatan kampus, aku lebih memilih untuk menghabiskan waktu di kosan dengan ditemani satu kipas angin yang kadang sering menjerit, karena tidak pernah aku beri kesempatan untuk istirahat ketika aku sedang berada di rumah. Begitu juga dengan teman keduaku, Laptop yang baterenya acap kali mengeluh akibat keseringan aku tinggal ketika sedang dicarg.

Sudah satu semester aku tidak bertemu Mama. Semenjak kuliah semester kedua, hubungan kami hanya melalui telpon. Pada liburan panjang kali ini, aku terpaksa menunda kepulanganku ke Kerinci, karena harus mengikuti Study Tour ke beberapa kampus di Pulau Jawa.

“Gimana? Udah dapat?” tanya Mama dengan nada bercanda, di sela pembicaraan kami via telpon.

Aku menghela nafas dalam. Selama empat bulan ini aku memang belum menemukan laki-laki yang cocok buat Mama. Bukan belum menemukan, tapi karena aku memang belum punya kesempatan untuk mencari. Lagian aku mau cari kemana? Apa mungkin aku harus pasang foto Mama di setiap sudut-sudut jalan? Imposibble.

“Belum, Ma. Mama tenang aja. Sebelum lulus kuliah, Ririn pastikan mama sudah menikah dengan laki-laki pilihan Ririn,” ujarku mantap, tanpa aku tahu di mana aku akan menemukan laki-laki itu.

Mama tertawa kecil mendengar pernyataanku.

“Ma, akhir-akhir ini, Ririn jadi merasa nggak nyaman sama salah satu Dosen Ririn di kampus. Caranya memperhatikan Ririn kok beda dari dosen-dosen yang lain,” keluhku. “Dia jadi lebih ramah. Lebih sering nyapa Ririn duluan. Aneh kan, Ma?”

“Ya, bagus donk. Apanya yang aneh? Mungkin karena kamu termasuk mahasiswi yang berprestasi makanya dia punya perhatian khusus sama kamu,” ujar mama berhusnuzhan.

“Yang berprestasi bukan hanya Ririn aja, Ma.” Aku mencoba mempertahankan argumenku. “Masalahnya Ririn seperti diperhatikan om-om genit gitu,” kataku seraya bergidik membayangkan tatapan Dosenku siang tadi.

“Ya, kamu jangan su’uzon gitu donk. Emangnya dia genit sama kamu?”

“Nggak sih, Ma. Cuma Ririn ngerasa risih aja.”

“Tapi hanya sebatas perhatian itu saja, kan? Selagi dia masih berbuat dalam batas kewajaran, kamu nggak perlu takut. Tapi kamu juga mesti hati-hati dan jaga diri baik-baik. Cuma tetap aja, kamu nggak boleh berprasangka buruk sama orang lain.”

***

Semula aku memang tidak ambil pusing dengan sikap salah satu Dosen di kampus tempatku menimba ilmu itu, apalagi Mama terus mengingatkan aku untuk selalu berprasangka baik kepada siapapun. Tapi lama-lama aku bertambah risih juga. Meski dari wajahnya memang tidak tergambar ciri-ciri laki-laki tidak baik, namun itu tidak cukup menjadi alasan untuk aku tetap ‘masa bodo’ dengan perhatian laki-laki yang usianya lebih dari setengah abad itu. Bisa jadi ia sedang mengalami puber kedua atau ketiga. Ah …, rasanya tidak mungkin. Tapi …

Tanpa mengurangi hormatku kepada beliau, aku memutuskan untuk bertanya sebelum semuanya semakin jauh.

“Maaf, jika kamu merasa risih dan merasa ada yang janggal ketika bapak memberi perhatian lebih kepada kamu. Bapak tidak punya maksud jahat, hanya saja ketika melihat kamu, bapak seperti melihat anak sendiri,” jelasnya penuh wibawa.

Tiba-tiba saja jantungku berdetak seratus kali lebih cepat dari biasanya. Aku sempat berpikir, apa mungkin dia laki-laki yang telah meninggalkan kami selama 18 tahun? Laki-laki yang tidak pernah kukenal sosoknya. Tapi apakah mungkin?

“Selamanya bapak hanya bisa berandai-andai untuk memiliki seorang anak,” lanjutnya pelan. “Bapak sudah divonis tidak bisa memiliki keturunan. Hal itu juga yang menjadi penyebab perceraian bapak. Setelah digugat cerai, bapak tidak memiliki kepercayaan diri untuk menikah lagi, karena takut tidak bisa menjadi suami yang baik, dan nanti ujung-ujungnya malah akan bercerai juga,” tuturnya tanpa ada rasa malu menceritakan masalah pribadinya.

Aku menghembuskan nafas panjang. Ternyata dia bukan laki-laki itu. Khayalanku memang sudah terlalu jauh. Mana mungkin Mama yang hanya tamatan SMP, bisa bersuamikan laki-laki berpendidikan S-3 seperti Pak Rendra Said yang berprofesi sebagai Dosen kampus tempat aku kuliah.

***

Sehari setelah pertemuan itu, otakku seolah menemukan ide cemerlang untuk mengenalkan Mama dengan Pak Rendra. Meski aku tahu strata sosial mereka berbeda jauh, namun aku mencoba untuk tetap optimis bahwa jodoh Tuhan yang mengatur.

Di sela jadwal Study Tour, aku meminta waktu untuk berbicara empat mata dengan beliau. Aku pikir ini adalah langkah yang tepat untuk memulai misi. Aku menceritakan semua tentang Mama, tanpa berniat melebih-lebihkan. Beliau mendengarkan ceritaku dengan seksama. Sesekali beliau juga menanggapi dan memperlihatkan ketertarikannya kepada Mama melalui gambaran yang aku sampaikan dan beberapa foto yang aku tunjukkan. Aku yang mendominasi pembicaraan itu, mungkin tampak seperti seorang sales woman yang sedang berusaha menjual barang dagangannya. Ternyata tidak sia-sia ilmu marketing yang diajarkan Mama kepadaku. Karena ketika aku menanyakan kesediaan beliau untuk berkenalan langsung dengan Mama, Pak Rendra tampak mengangguk dengan mantap tanpa ada sedikit pun keraguan tergambar di wajahnya.

Pulang dari Study Tour, aku masih punya waktu satu bulan untuk berlibur di Kerinci. Sehari sebelum pulang, Mama tiba di Jambi untuk menjemputku. Aku yang sudah merencanakan pertemuan Mama dengan Pak Rendra, memulai aksiku dengan meminta Mama menemaniku ke kampus dengan alasan ingin mengembalikan buku-buku perpustakaan. Mama tidak keberatan. Sampai akhirnya kebetulan yang aku rencanakan, Pak Rendra muncul ketika kami keluar dari perpustakaan. Aku memperkenalkan Mama dengan beliau. Dari raut wajah keduanya, tampak ada chemistry yang tidak bisa aku jelaskan dengan kata-kata. Aku tersenyum dalam hati seraya berdoa kepada Tuhan, agar rencana ini adalah sebagian dari rencana-Nya juga.

Setelah perbincangan singkat itu, kami pamit kepada Pak Rendra. Kepergian kami disusul dengan sebuah pesan singkat yang berisi pujian dan kekaguman atas keramahan dan kesederhanaan Mama. Di akhir kalimatnya, ia menuliskan, “tanyakan pada Mamamu, adakah syarat khusus yang harus bapak penuhi untuk menjadi laki-laki yang beruntung menempati posisi nomor satu?”

Aku tersenyum setelah membaca pesan dari Pak Rendra.

“Gimana, Ma?” tanyaku seraya menunjukkan isi pesan tersebut.

Mama mengernyitkan dahi. “Kamu ada-ada saja, Rin. Mana mungkin, seorang Dosen mau sama Mama yang hanya penjual kue,” tepisnya malu.

“Mama jangan terlalu merendah gitu donk. Pengusaha kue, Mama …,” kataku membetulkan kata-kata Mama.

“Ah …, sama aja. Kerja Mama, kan jualan juga,” elaknya.

“Ya udah, terserah Mama aja lah. Mau penjual atau Pengusaha, yang jelas sekarang, Mama mau, kan?” desakku.

Mama kembali tersenyum kecil. “Tapi itu nggak mungkin, Rin,” katanya lagi, berusaha untuk mengelak.

“Bukannya Mama yang selalu ngajarin Ririn, jika kita menyerahkan semua urusan pada Tuhan, maka tidak ada yang tidak mungkin,” kataku mengeluarkan kalimat andalan Mama ketika aku mulai mengeluhkan masalah kepadanya.

Mama bergeming. Terdengar ia menghela nafas panjang dan dalam. Kali ini Mama tidak bisa lagi mengelak. Sepertinya ia sudah termakan omongannya sendiri. Aku tersenyum dalam hati.

“Kamu nggak apa-apa kalau Mama menikah lagi?” ujarnya pelan.

“Mama gimana sih. Ini kan memang maunya Ririn. Malah Ririn yang lebih senang, karena nanti kalau Ririn menikah, Ririn nggak perlu khawatir ninggalin Mama.”

Tawa kami pecah berbarengan.

Mama memelukku erat. “Ternyata ini semua kamu lakukan untuk bersiap-siap ninggalin Mama?” candanya lagi.

Aku tersenyum bahagia dan langsung membalas pelukan Mama.

***

Tuhan memang tidak pernah sia-sia. Setiap perjuangan yang ikhlas, pasti ada balasannya. Siapa yang menyangka, beasiswa yang mengantarkan aku kuliah di Kota Jambi, adalah jalan Tuhan yang menjembatani pertemuan Mama dengan jodohnya. dan siapa yang akan mengira, Mama yang hanya berijazah Sekolah Menengah Pertama, kini bersuamikan seorang Dosen yang berpendidikan Strata-3.

Jodoh memang bukan kuasa kita. Setiap yang terjadi adalah bukti nyata, betapa Maha Besar dan Maha Kuasanya DIA. Allah ingin menunjukkan kepada semua hamba-Nya, bahwa tiada yang mustahil ketika kita menggantungkan harapan hanya kepada-Nya. Ini hanya salah satu bukti, bahwa setiap manusia sama di mata Tuhannya, yang membedakan, hanyalah ketaqwaannya saja.

Written by

Yulia Gumay

Assalamu'alaikum ...

Halo, Saya Yulia.
Mba-mba kantoran yang cinta Traveling. Suka masak, tapi ngga suka makan.

Apa yang saya posting di blog ini merupakan tulisan pribadi saya kecuali jika saya menyebutkan sumber lainnya. Di sini Anda akan menemukan sesuatu yang mungkin penting dan tidak penting. Tapi saya tetap berharap ada manfaat yang Anda dapat meski mungkin keberadaan Anda di sini karena tersesat.

Terima kasih banyak sudah berkunjung. Lain waktu datang lagi yaaa!!! :D