Agustus 2009

Ibu sedang sibuk di dalam kamar membereskan isi lemari baju yang sudah penuh dengan pakaian usang. Sementara aku sibuk pula menyapu seluruh ruangan, mulai dari ruang dapur sampai ke teras rumah.

“Mau ada hajatan, Mi?” sapa tetanggaku yang lewat di depan rumah.

Aku tersenyum. “Cuma bersih-bersih aja, Tek,” jawabku santun.

Dari dalam kamar, sesekali terdengar suara ibu yang bersin-bersin disertai dengan batuk. Perubahan cuaca membuat tubuh ibu yang mulai rentan terhadap penyakit tidak mampu menahan bakteri yang menyerang. Namun ibu hanya terkena flu biasa dan batuk ringan. Setelah membersihkan seluruh ruangan rumah, aku bergegas ke warung, membelikan obat flu untuk ibu.

“Ini, Bu, diminum,” kataku seraya menyerahkan obat flu yang baru saja aku beli dan segelas air putih yang langsung diambil oleh ibu, dan kemudian meminumnya.

“Bu, nanti kalau Mia wisuda, ibu pakai baju yang ini aja, ya!” kataku seraya menempelkan sehelai baju kebaya berwarna hijau muda ke tubuh ibu.

“Ah …, kamu Mi, ujian akhir kamu saja belum, udah mau wisuda,” katanya seraya mengambil baju kebaya itu lalu kembali melipatnya.

“Ujiannya kan besok, Bu. Tinggal satu hari lagi kok.”

Ibu tersenyum. “Mudah-mudahan kamu lulus ya, Nak.”

Aku mengangguk. “Mia janji akan memberikan yang terbaik buat ibu,” kataku seraya memeluk tubuh ibu yang terasa hangat.

Ibu membalas pelukanku seraya berbisik, “semoga kamu bahagia, Nak. Ibu merestui setiap langkah kehidupanmu. Semoga suatu saat kelak kamu mendapatkan apa yang kamu impikan selama ini. Do’a ibu akan selalu menyertai mu.”

***

Hari itu tepatnya Kamis, 13 Agustus 2011. Hari di mana aku dinyatakan lulus dalam sidang Skripsi.

Dengan linangan air mata kebahagiaan, aku segera melakukan sujud syukur. Setelah menyalami tangan lima orang dosen penguji, aku bergegas keluar ruangan, berlari-lari kecil menuju pintu gerbang kampus yang hanya berjarak sekitar tiga puluh meter dari ruangan tempat sidang Skripsi-ku. Aku tidak sabar ingin menyampaikan berita bahagia ini kepada satu-satunya orang yang menjadi semangat hidupku. Seorang Malaikat yang berwujud manusia. Ya, dia ibuku.

Aku sengaja meminta kepada tukang ojek yang mengantarkanku berhenti di persimpangan gang menuju rumah, agar aku bisa memberikan kejutan kepada ibu. Saking senangnya, sampai-sampai kembalian uangku pun tidak aku ambil. Aku kembali berlari-lari kecil dengan senyum sumringah yang mengembang di bibirku. Terbayang wajah ibu yang sedang menungguku dengan senyuman bangga dan penuh harap.

Namun ketika aku sampai di depan pagar rumah, senyumku seketika memudar dan langkahku pun terhenti saat melihat beberapa orang tetangga yang memakai kerudung dan peci dengan pakaian berwarna dominan hitam, sedang sibuk berlalu lalang di depan rumahku. Bendera kuning bertuliskan ‘Innalillahiwainna ilaihi Rajiun’ terpajang di pagar bambu depan rumahku. Aku berjalan perlahan menuju pintu pagar. Dari dalam rumah, kudengar suara tangisan saling sahut-menyahut. Aku bingung. Ada apa??

Belum sempat pertanyaan itu terlontar dari bibirku. Seorang perempuan keluar dari dalam rumah dengan memakai pakaian yang serba hitam. Menangis sambil berlari ke arahku. Memelukku erat dengan tangisan yang semakin keras.

Dia kakak sepupuku.

“Siapa yang meninggal, Kak?” tanyaku, dengan nafas yang masih terengah dan tubuh kaku yang berdiri mematung. Sementara dalam hati, firasat buruk terus menghantui tentang jawaban yang akan aku terima.

Kakak sepupuku terus menangis tanpa memberikan jawaban apapun. Aku melepaskan pelukannya, kemudian melangkah pelan menuju pintu rumah yang terbuka lebar. Tak kubiarkan mataku berkedip dan terus menatap ke dalam rumah. Semakin dekat, semakin keras suara tangisan yang kudengar. Semua orang yang berada di dalam rumah, mengalihkan perhatian mereka kepadaku. Keringat dingin mengucur dari balik jilbab putih yang aku kenakan.

Sampai di depan pintu, aku kembali mematung tanpa sanggup melanjutkan langkah. Kurasakan seluruh tubuhku bergetar hebat, hingga kertas lembaran skripsi yang semula kupegang, jatuh ke lantai karena tanganku tidak sanggup lagi menggenggamnya. Nafasku tidak beraturan. Berita bahagia yang aku bawa ikut lenyap di saat aku melihat tubuh ibu yang terbaring lemah tak bernyawa. Aku terhenyak seketika itu juga. Lidahku seakan terkunci. Jangankan untuk mendekat ke sisi ibu, untuk menangis pun aku tidak sanggup.

“Tidak mungkin,” hanya itu kata yang mampu keluar dari mulutku. Setelah itu aku merasa dunia ini gelap. Gelap. Dan benar-benar gelap. Kemudian aku tak sadarkan diri.

***

“Kenapa tidak ada satu orang pun yang memberitahuku ketika ibu mengalami Sakaratul Maut?” tanyaku entah pada siapa.

Orang-orang yang duduk di sekelilingku tidak ada yang memberikan jawaban. Di antara mereka masih banyak yang menangis. Entah karena ibuku yang telah pergi, atau karena kasihan melihat aku yang akan hidup seorang diri.

“Bukannya kami tidak mau memberitahu, Mi. Tapi semua ini ibumu yang minta. Dia tau kamu sedang menghadapi sidang Skripsi. Dan dia tidak mau semua itu mengganggu konsentrasimu,” ujap kakak sepupuku sambil merangkul bahuku.

Kurasakan mataku semakin perih. Setiap kali aku mengingat ibu, selalu saja ada tetesan air mata yang mengikuti, yang kadang menganak sungai tanpa bisa kubendung. Begitu berat rasanya, ketika harus kehilangan dengan cara tiba-tiba. Tapi apa yang bisa aku perbuat untuk mengembalikan semuanya? Apakah dengan terus menangis berhari-hari, akan mengembalikan ibu? Apakah dengan protes kepada Tuhan, ibu bisa hidup kembali? Tidak. Bukan begitu cara yang harus aku lakukan untuk menunjukkan rasa sayangku kepada ibu. Cukup dengan menangisi kepergiaannya karena sayang. Bukan menangis karena tidak mengikhlaskan.

***

Dua bulan berlalu. Tapi rasanya baru kemarin aku memeluk tubuh hangat itu. Baru kemarin aku mencium tangannya. Baru kemarin aku menatap wajah tuanya.

Berkali-kali kuhembuskan nafasku untuk menahan bendungan di mataku agar tidak sampai meleleh. Namun semakin kutahan, semakin bergerombol pula kawanannya datang. Kubiarkan sejenak ia menganak sungai agar lepas sesak di dadaku. Lalu kulayangkan pandangan ke semua arah dan sudut ruangan. Berharap ibuku ada di antara para orang tua lainnya yang menghadiri wisuda anaknya. Berharap ibuku datang dengan wajah penuh kebahagiaan seraya tersenyum bangga melihatku memakai Toga. Namun sekali lagi harus kutumpahkan air mataku sebagai bentuk rasa sedih dan kecewa, karna aku tidak menemukan sosok ibuku di antara mereka semua.

Kutundukkan wajah seraya menghapus sisa-sisa air mata yang masih menempel di pipiku. Hanya do’a yang bisa aku kirimkan sebagai hadiah untuknya di sana. Semoga ibu mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya. Aamiin …!!!

Agustus 2015

Hujan lebat kembali mengguyur bumi. Mematung dari balik kaca jendela kamar, sambil menikmati secangkir teh hangat, adalah ritual yang selalu aku lakukan ketika kenanganku bersama ibu menyeruak kembali. Kulepaskan pandangan keluar jendela. Jalan setapak di depan rumah sudah dipenuhi dengan genangan air hujan yang kecoklatan bercampur tanah. Sesekali angin bertiup sepoi menggoyangkan daun-daun pohon mangga di depan rumah yang mulai berbuah.

Nyanyian rintik hujan tidak lagi semerdu dulu, saat ibu masih ada. Ketika aku mematung di sini untuk menunggu kepulangannya. Hampir empat tahun berlalu. Kini, ketika hujan turun, yang kudengar hanya tetesan hampa, karena seberapa lama pun aku mematung dan menunggu di sini, sosok yang aku nanti, tidak akan mungkin kembali lagi.

“Ibu sedang melihat apa?”

Suara lembut itu menyentakkan lamunanku. Aku menoleh. Aisha, anakku yang baru berumur tiga tahun, sudah berdiri tepat di sampingku.

Aku tersenyum seraya merunduk.

“Aisha, mau dengar cerita ibu nggak?” kataku seraya memegang kedua bahunya dengan penuh kasih sayang.

“Celita ibu yang kemalen, ya, Bu?” tanya anakku polos dengan binar mata yang berseri-seri.

Aku mengangguk seraya tersenyum. Kupeluk erat tubuh yang tak berdosa itu. Dalam hati aku berdo’a kepada Tuhan, “Yaa Allah, semoga kelak anakku akan memperlakukan aku sama seperti aku memperlakukan ibuku semasa hidupnya dan setelah dia tiada.”

Aamiin …!!!

 

Sakti Alam Kerinci, 040913

Written by

Yulia Gumay

Assalamu'alaikum ...

Halo, Saya Yulia.
Mba-mba kantoran single (buka promosi) yang cinta Traveling.

Apa yang saya posting di blog ini merupakan tulisan pribadi saya kecuali jika saya menyebutkan sumber lainnya. Di sini Anda akan menemukan sesuatu yang mungkin penting dan tidak penting. Tapi saya tetap berharap ada manfaat yang Anda dapat meski mungkin sebenarnya keberadaan Anda di sini karena tersesat.

Terima kasih banyak sudah berkunjung. Lain waktu datang lagi yaaa!!! :D