Dear calon Imam

Maaf jika surat ini mengganggumu. Atau kau mungkin tidak suka jika aku mengungkapkan ini secara terbuka. Aku pun sebenarnya ragu, karena mungkin kau di sana juga belum tentu akan membacanya. Lebih dari itu juga ada cemas yang diam-diam menyelinap karena aku takut ini semua hanya akan menjadi sebuah ungkapan tanpa tujuan nyata.

Tahukah kau …
Ketika membayangkan surat ini sampai di tanganmu, jari-jari tanganku ikut bergetar, gentar, menahan malu. Sempat pula bibirku kelu, kaku, karena kosa-kata yang akan kurangkai menjadi kalimat, tiba-tiba menguap, hilang sesaat. Tapi percayalah, meski lidah ini tidak lagi mampu menyanjungmu, namun hati tidak pernah lupa bertasbih mengucap nama-Nya dan namamu.

Sulit kutaksir entah sudah berapa lama kau menjadi peran utama dalam bait-bait puisi di tiap lembar kertas diari. Jutaan kalimat rindu tertuang dalam setiap hela dan desah nafasku. Menjadi  nyanyian surga, yang selalu hadir di setiap detak dan denyut nadiku.

Kini Izinkan aku bertanya, bagaimana seandainya jika aku menyatakan aku merinduimu? Bagaimana seandainya jika perasaan ini benar-benar menginginkan hadirmu? Bagaimana seandainya jika atas nama-Nya aku katakan aku mencintaimu? Adakah inginmu akan sama seperti mauku? Adakah kau akan menjawab semua tanya dengan jawaban serupa? Jika tidak, segeralah putuskan harapku. Karena aku tidak sudi jika hanya aku yang merindu. Karena aku tidak ingin harapku berlanjut kepadamu yang ternyata tidak menginginkan aku menjadi kekasih hati sampai mati.

Tidak banyak yang ingin aku sampaikan. Hanya itu saja. Hanya ingin kau tahu bahwa aku masih menunggumu di sini. Tak usah kau selipkan ragu di hati, karena penantianku seraya memperbaiki diri. Belajar menjadi wanita yang nanti akan berstatus sebagai istri, lalu menjadi Ibu untuk anak-anak kita nanti.

Kusudahi dulu suratku sampai di sini. Semoga setelah ini, Tuhan berkenan mengizinkan kita bertatap muka kembali, saling menyapa, lalu berbagi cerita tanpa ada lagi batas ragu akan menumpuk dosa.

 

Aku yang selalu memelukmu dalam doa

Written by

Yulia Gumay

Assalamu'alaikum ...

Halo, Saya Yulia.
Mba-mba kantoran yang cinta Traveling. Suka masak, tapi ngga suka makan.

Apa yang saya posting di blog ini merupakan tulisan pribadi saya kecuali jika saya menyebutkan sumber lainnya. Di sini Anda akan menemukan sesuatu yang mungkin penting dan tidak penting. Tapi saya tetap berharap ada manfaat yang Anda dapat meski mungkin keberadaan Anda di sini karena tersesat.

Terima kasih banyak sudah berkunjung. Lain waktu datang lagi yaaa!!! :D